Tampilkan postingan dengan label Makna di balik cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makna di balik cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2015

KISAH SYEH ‘ABDULLAH TURUGBADI BERSAMA MURID-MURIDNYA Diceritakan oleh Sita Rose

Image: "Sita Rose" ( Foto: SP )
Sita Rose
GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS - Kamis, 02 Juli 2015 - Dikisahkan, suatu ketika Syeh ‘Abdullah Turugbadi dari kota Thus berkumpul bersama murid-muridnya sambil makan roti yang sudah disediakan di atas meja.  Berkatalah Syeh Turugbadi kepada murid-muridnya:

“Wahai, murid-muridku! Sebentar lagi kita akan kedatangan seorang tamu yang patut kita hormati, dia adalah sahabat lamaku bernama Mansyur al-Hallaj dari kota Qasymir. Sambutlah dia, dan hormati sebagaimana mestinya, jangan lihat dan bertanya dengan apa yang dibawa dan dilakukannya di sini, karena dia akan melakukan hal-hal besar terkait dengan pelajaran yang akan kalian dapatkan nanti yang mungkin saja itu tidak kau mengerti dan fahami sebelumnya!”

Selang bebera lama kemudian, tibalah Syeh Mansyur al-Hallaj yang pada saat itu menggunakan pakaian qaba’ hitam dengan membawa dua ekor anjing hitam yang dirantai di kedua lehernya.  Sementara Syeh ‘Abdullah Turugbadi menyuruh murid-muridnya untuk menyambut Syeh Mansyur al-Hallaj sahabatnya itu:

“Nah, murid-muridku itulah dia, orang yang kita tunggu-tunggu! Bangkit dan sambutlah dia dan ingat pula dengan kata-kata pesanku kepada kalian semua, tadi!”

“Baik, guru!”

Demikian Syeh Turugbadi berkata kepada murid-muridnya yang segera ke luar dari ruangan menghampiri menyambut Syeh Mansyur al-Hallaj, dan mengantarnya masuk menuju ruangan tempat gurunya yang memang sudah menantinya sejak tadi.  Murid-murid  Syeh ‘Abdullah Turugbadi merasa heran juga dan bertanya-tanya dalam hati dengan apa yang dibawa oleh sahabat gurunya itu, dua ekor anjing hitam yang menurut ajaran fiqih Syafi’i yang dianutnya, khewan anjing dianggap najis dan haram.  Akan tetapi mereka semua tak mau bertanya-tanya lagi dan pertanyaan itu hanya disimpannya saja di dalam hati karena sebelumnya mereka memang sudah diberi tahu oleh gurunya tentang Syeh Mansyur al-Hallaj sahabat gurunya itu.

Syeh Turugbadi pun menyambut sahabatnya itu dengan memeluknya erat-erat tanda rasa persahabatan yang penuh keakraban dan ketulusan. lalu dia mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk di bangku yang telah disediakan, sementara murid-muridnya duduk bersila di atas permadani di ruang tamu yang sekali gus juga menjadi ruang tempat belajar murid-muridnya.

“Sahabatku, silahkan masuk dan duduklah di sini, aku sudah lama menanti kehadiranmu untuk memberikan sedikit pelajaran Islam kepada murid-muridku terkait dengan sifat-sifat kebanyakan manusia yang selalu saja bersikap curiga, penuh syak wasyangka dan sering menilai dan melihat orang lain dari luarnya dan segi buruknya saja!”

“Yakh, begitulah memang sifat kebanyakan manusia, sahabatku Syeh Turugbadi. Kebanyakan mereka justru hanya mampu melakukan perbuatan saleh secara ritual vertikal saja, manakala menerapkannya secara horisontal kepada sesama, kepada setiap orang, kepada semua binatang, dan alam lingkungan, acapkali mereka justru menjadi alpa dan lupa.  Sebagai contoh kecil, tidak menjawab salam dari orang yang mengucapkan salam kepadanya, memalingkan muka, membusungkan dada saat bertemu dengan teman di tengah jalan, merasa paling pintar, merasa paling benar dan merasa lebih kaya dan dari orang lain, dan lain sebagainya.”

Demikian kata-kata yang diucapkan Syeh Mansyur al- Hallaj kepada Syeh Abdullah Turugbadi sambil memanggil kedua ekor anjingnya untuk duduk di sampingnya lalu kedua anjingnya itu diberinya masing-masing sepotong roti yang ada di atas meja. Perbuatan ini tentu saja sangat mengejutkan murid-murid Syeh Turugbadi kecuali Syeh Turugbadi sendiri yang memang sudah mengenal lebih dekat keyakinan Syeh Abdullah al-Hallaj tentang anjing.  Demi melihat keterkejutan dan perasaan tidak senang dari murid-murid Syeh Turugbadi dengan apa yang dilakukannya maka dia pun melanjutkan kata-katanya kepada Syeh Tugbadi:

“Wahai sahabatku Syeh Turugbadi, aku merasa murid-muridmu tidak suka dengan apa yang aku lakukan, membawa kedua anjing hitam peliharaan dekat denganku di sini dan memberinya roti yang telah kau hidangkan kepadaku. Aku harap nanti kau bisa menjelaskannya kepada mereka semua karena yang aku lakukan pasti kau sudah memahaminya, dan sekarang aku mohon diri untuk kembali ke Qasmir.  Aku mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas segala kebaikanmu kepadaku, dan maafkan atas segala tindakanku yang mungkin tidak berkenan di tempatmu ini, sekarang aku mohon diri, assalamu’alaikum!”

Mendengar perkataan Syeh Manyur al-Hallaj, Syeh Abdullah Turugbadi hanya tersenyum, setelah membalas salam, ia mendekati Syeh Mansyur dan memeluknya sambil berkata:

“Baiklah sahabatku, kau jangan khawatir dan aku akan menyampaikan pesan pelajaran darimu tadi kepada murid-muridku, maafkanlah atas sikap mereka yang kurang berkenan kepadamu, sesungguhnya itu dilakukan karena mereka belum mengerti dan memahami makna religi di balik sikap dan perbuatanmu, selamat jalan sahabatku, assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam!”

Setelah membalas salam, Syeh Abdullah Turugbadi, Syeh Mansyur al-Hallaj pun keluar meninggalkan ruangan tempat tinggal sahabatnya.  Sementara Syeh Abdullah Turugbadi bersama muridnya mengantarnya sampai di depan pintu.

Selang beberapa menit kemudian Syeh Abdullah Turugbadi bersama murid-muridnya kembali ke dalam ruangan tempat mereka berkumpul.  Murid-murid Syeh yang masuk lebih dulu masuk ke ruangan segera duduk bersila di atas permadani, sedang Syeh Abdullah yang masuk kemudian langsung menuju bangkunya.  Sejenak kemudian ia berkata kepada murid-muridnya:

“Murid-muridku, sesungguhnya tadi kalian telah mendapat pelajaran agama dari sahabatku Syeh Mansyur al-Hallaj terkait ajaran islam yaitu, prilaku saleh secara horisontal, apakah kalian bisa memahaminya dengan makna religi yang terkandung dalam sikap dan tindakan yang telah dilakukan sahabatku, Syeh Mansyur al-Hallaj?”

Mendengar pertanyaan seperti itu murid-murid Syeh Turugbadi, yang memang sebelumnya tidak mengerti menjadi tambah tidak mengerti lagi, mereka semua hanya diam seribu basa meski di dalam hatinya banyak pertanyaan yang ingin dikemukan kepada gurunya.  Dalam situasi yang hening itu salah seorang murid tertua bernama Khasan mengajukan pertanyaan kepada gurunya:

“Guru, mohon maaf sebelumnya, kami kira semua murid-muridmu ini tidak mengerti, masih belum bisa memahami, dan tidak bisa menerima tindakan Syeh Mansyur al-Hallaj yang membawa dua ekor anjing hitam ke dalam ruang belajar ini, apalagi memberi makan kedua anjing peliharaannya itu dengan roti yang kita hidangkan kepadanya.  Bukankah menurut faham yang kita anut anjing adalah binatang yang najis dan diharamkan, mengapa guru mengundang orang semacam itu ke mari? Orang yang sudah jelas-jelas tidak menghormati kita dan membuat makanan kita menjadi najis dan tidak suci lagi untuk dimakan, dan terus terang kami, terutama aku, masih belum mengetahui makna religi yang terkandung di dalam sikap Syeh Mansyur al-Hallaj itu, dan belum bisa menerima atas semua tindakan yang dilakukannya di sini yang menurutku adalah tindakan yang tidak patut untuk dicontoh?”   Mendengar penuturan dari rekannya, Khasan yang dianggapnya ada benarnya, semua murid-murid Syeh Abdullah serentak berseru:

“Betul, betul, guru! Benar, memang benar sekali apa yang dikatakan Khasan itu, benar Guru!”  Demi mendengar reaksi yang cukup keras dari semua murid-muridnya dengan tindakan yang dilakukan sahabatnya, Syeh Abdullah Turugbadi menanggapinya dengan tenang:

“Baiklah murid-muridku, aku akan menjawab dan menjelaskannya secara rinci kepada kalian semua, dan sekarang mohon kalian semua mendengarkan dan memperhatikannya dengan baik.  Jika masih ada yang belum jelas dengan penjelasanku, kalian boleh mendiskusikanya lagi, aku akan selalu terbuka untuk itu, apakah kalian sudah siap untuk mendengarkan penjelasanku!”

“Siap guru, kami semua sudah siap untuk mendengar dan memperhatikan wejangan guru!”

“Baik, sekarang aku akan menjelaskannya kepada kalian semua! Sebagaimana yang telah aku sampaikan pada pelajaran-pelajaran sebelumnya bahwa di dalam pokok-pokok ajaran Islam yang sudah kita ketahui bersama bahwa dengan syariatnya, Islam mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, yang kita sebut hubungan secara vertikal,  dan Islam juga mengatur hubungan manusia dengan sesamanya, dan alam lingkungannya seperti lingkungan di sekitarnya baik kepada hewan, kepada tumbuh-tumbuhan dan sebagainya yang kita sebut hubungan secara horisontal, dan kesemuanya itu terkeristalisasi dalam prinsip ajaran Islam yaitu, yang pertama adalah Iman, hubungan kepercayaan secara batiniah. Kedua  Islam, yaitu amal perbuatan shaleh, dan yang ketiga adalah Ihsan, yaitu akhlaqul karimah. Dan perlu kalian ingat bahwa ketiga prinsip ajaran Islam itu harus terwujud dan terejawantah dalam sikap perbuatan dan prilaku kita sehari-hari di dalam kehidupan ini murid-muridku.” Syeh Abdullah Turugbadi menghentikan wejangannya, lalu menolehkan kepala ke arah murid-muridnya yang nampak masih antusias memperhatikan dan mendengarkan wejangannya. Setelah menarik nafas dalam-dalam, ia melanjutkan wejangannya kembali.

“Nah, murid-muridku! Terkait dengan tindakan, sikap dan perilaku Syeh Mansyur al-Hallaj yang sudah kalian saksikan dan alami sendiri seharusnya kalian bisa mengkaitkannya dengan ketiga prinsip ajaran Islam tadi yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.  Menurutku apa yang dilakukan Syeh Mansyur al-Hallaj dengan memberi makanan roti kepada kedua anjingnya itu termasuk perbuatan saleh secara horisontal yang mengasihi sesama mahkluk hidup kepada manusia, hewan, dan lingkungan alam sebagaimana yang termaktub dalam prinsip ajaran Islam yang pokok tadi, Iman, Islam dan Ihsan!” Kembali Syeh Abdullah Turugbadi menghentikan wejangannya untuk bernafas sejenak.  Sambil mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan satu jari telunjuk ke arah murid-muridnya ia melanjutkan wejangannya:

“Murid-muridku, yang lebih teramat penting dan pokok lagi ialah bahwa makna religi yang terkandung dalam sikap Syeh Mansyur al-Hallaj adalah bahwa kedua anjing berwarna hitam yang dirantai dan dibawanya serta itu sesungguhnya simbol atau lambang nafsu-nafsu yang bersemayam bersembunyi dalam diri kita yang teramat sukar dikendalikan bahkan mungkin dilenyapkan. Dan, Syeh Mansyur al-Hallaj adalah orang sudah mampu mengendalikan itu dengan merantai dan mengendalikan anjing-anjing peliharaannya yang merupakan lambang nafsu-nafsu yang ada dalam dirinya yaitu nafsu lawwamah, nafsu sufiyah, dan nafsu amarah sebagai mana hal tersebut sudah aku sampaikan pada pelajaran sebelumnya.  Sekarang bagaimana dengan kalian sendiri?  Apakah kalian sudah mampu dan bisa mengendalikan dan melenyapkan nafsu-nafsu tersebut? Aku melihatnya justru nafsu-nafsu tersebut masih tersembunyi, masih melekat kuat dan kalian sepertinya masih belum mampu mengendalikan, mengeluarkannya apalagi untuk melenyapkan nafsu-nafsu tersebut dari dalam diri kalian.  Nah, aku sebagai gurumu sungguh tak membutuhkan jawaban dari kalian untuk  pertanyaan-pertanyaan ini dari kalian, dan kalian bisa merenungkannya sendiri!”

Pustaka:
—Drs. H. Effendi Zarkasi, “Unsur Islam Dalam Pewayangan”
    Penerbit Alfa Daya Jakarta 1981
—Jamaluddin Kafie, “Tuntunan Pelaksanaan Rukun Iman Islam dan Ihsan”
    Penerbit Al-Ikhlas-Surabaya 1981
—YB. Prabaswara, “Syeh Siti Jenar Cikal Bakal Faham Kejawen”
    Penerbit Armedia Jakarta

Rabu, 01 Juli 2015 – 08:20 WIB
Sita Rose
Di Bumi Pangarakan, Bogor

Jumat, 05 Juli 2013

Mulailah Dari Diri Kita Sendiri Oleh Slamet Priyadi



Slmet Priyadi Blog│Jumat, 05 Juli 2013│20:43 WIB

Slamet Priyadi
Suatu ketika di salah satu masjid, seorang ustadz penda’wah berceramah dalam suatu pengajian majelis taklim kaun ibu tentang pentingnya berinfak di jalan Allah. Dan kebetulan, majelis taklim kaum ibu yang mendengarkan dakwah sang ustadz, salah satu di antaranya adalah istrinya sendiri.

Ceramah yang disampaikan sang ustadz tentang pentingnya infak, begitu mempesona, ekspresif, simpatik, dan menarik dengan  suaranya yang begitu khas, terkadang lembut, terkadang keras dan tegas. Sehingga beberapa jamaah sampai-sampai ada yang meneteskan air mata, menangis karena dakwah sang ustadz merasuk ke dalam lubuk hati mereka, termasuk istrinya sendiri. Istri sang ustadz menangis karena sangat tersentuh dengan apa yang disampaikan dalam ceramah suaminya itu. 

Setelah pengajian selesai, istri sang ustadz bergegas pulang ke rumahnya. Setibanya di rumah, Ia segera melepas perhiasan gelang dan kalung yang ada di tangan dan lehernya. Ia juga mengambil sebagian harta dan emas yang disimpan di rumahnya lalu diinfakkannya dengan tujuan semata-mata karena Allah.  

Beberapa jam kemudian, setelah selesai menyampaikan dakwah di masjid, suaminya pun tiba di rumah. Sang ustadz segera menyapa istrinya dengan penuh perasaan cinta sambil membelai rambut istrinya sebagaimana kebiasaan yang dilakukannya setiap pulang dari berdakwah. Akan tetapi ia sedikit terkejut dan heran, karena dilihatnya sang istri terkasih tidak mengenakan gelang dan kalung perhiasan. Ia pun bertanya kepada istrinya:

“Istriku, kemana gelang dan kalung perhiasan yang kau pakai di pengajian tadi? Kau tambah cantik dengan memakai perhiasan itu, istriku.” Tanya sang ustadz kepada istrinya sambil kembali membelai-belai rambutnya. Istrinya pun menjawab pertanyaan suaminya dengan penuh manja:

“Suamiku...! hampir semua majelis taklim kaum ibu yang mendengarkan ceramah di pengajian, tersentuh hatinya oleh materi ceramahmu tentang pentingnya berinfak di jalan Allah, termasuk istrimu ini. Bahkan aku pun ikut menagis pula tak bisa menahan haru. Setelah selesai, ibu ketua majelis taklim menyerukan kepada semua ibu-ibu anggota kelompok pengajian agar menginfakkan sebagian hartanya.  Maka dengan ikhlas penuh kesadaran sebagai umat Islam, aku pun menyerahkan pula gelang dan kalung perhiasan itu, bahkan sebagian harta yang masih ada akan aku serahkan pula untuk dikumpulkan oleh ketua pengajian yang selanjutnya akan diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya.”

Mendengar jawaban dan penuturan istrinya, sang ustadz bukannya berbangga dengan apa yang telah dilakukan istrinya, tetapi malah kecewa dan sedikit marah:

“Aduh, aduh, aduh, bagaimana ini? Istriku! Semua kata-kata yang aku ucapkan dalam ceramahku tadi, itu bukan untukmu! Akan tetapi... untuk mereka hadirin kelompok pengajian yang lain, bukan engkau tahu!”

Nah, sobat! Jika kita cermati ilusterasi cerita di atas, tentu sangat paradok, bukan? Seorang penceramah yang mengajarkan ajaran syariat agama yang seharusnya harus dicontoh dan diteladani ucapan-ucapannya justru berbuat sebailiknya, tidak adanya satu kata dan perbuatan.  Bukankah Allah SWT berfirman, “Mengapa kamu suruh orang lain melakukan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab. Tidakkah kamu berfikir?” (QS. Al-Baqarah:44)

Dengan demikian, sebelum menggebu-gebu menyuruh atau menasehati orang lain untuk berbuat baik atau berperilaku baik, sebaiknya terlebih dahulu melakukan perbuatan baik oleh diri sendiri. Sangat keliru dan salah besar jika menuntut atau menyuruh orang lain memiliki sifat-sifat baik sementara dia sendiri belum memiliki sifat-sifat tersebut. Orang bijak berkata, “Orang yang melihat dan mendidik dirinya sendiri adalah lebih berhak mendapat kehormatan daripada orang yang mendidik dan mengajari orang lain.”

Imam ‘Ali berkata, “Barang siapa menjadi pemimpin, hendaklah ia mulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain, dan mendidik dengan perilaku sebelum dengan lisan.” (Khalil al-Musawi, Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, hal. 25)

Demikianlah! Semoga ada manfaatnya, terutama untuk diri saya sendiri!

Referensi:
Khalil Al-Musawi,2002, Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Jakarta: Lentera.
Penulis:
Slamet Priyadi, Pangarakan - Bogor

Kamis, 06 Juni 2013

Ngurah Dwaja: “Cermin Kalah dan Menang”



Denmas Priyadi Blog│Kamis, 06 Juni 2013│16:31 WIB

Dursasana menarik kain penutup tubuh Drupadi
Di ruangan agung Kerajaan Astina, sebuah pesta besar sekaligus nasib tragis pernah berlangsung. Terlampau tragis bahkan, hingga mengubah sepenuhnya masa depan negeri ini. Pesta itu memang telah usai. Meninggalkan ruangan yang kini lengang. Hanya angin Sesekali terdengar mendengung di lorong-lorongnya yang dingin dan sunyi. Selebihnya adalah bayangan mencekam di antara pilar-pilar marmer yang meninggi itu. Meja kecil dengan batu dadu itu masih dibiarkan tergeletak di situ. Kursi dan botol-botol anggur kosong berhamburan di balkon. Sedang di lantai tengah, jejak-jejak kaki dan ceceran keringat masih membekas dalam debu. Juga bayangan tawa Dursasana yang aneh itu. Di situlah, beberapa waktu lalu, di tengah keramaian pesta kerajaan, Dursasana dengan nafas tersengal dan tawa menyeringai oleh birahi berusaha merenggut dan menelanjangi Drupadi.
 
“Yudistira telah mernpertaruhkan Drupadi dan ia kalah. Perempuan ini sekarang jadi budak kami dan kami bebas memperlakukannya kata Dursasana”. Bau alkohol menyengat mulutnya. Matanya memerah. Ia yang terhuyung-huyung karena mabuk terus berusaha melucuti kain di pinggul Drupadi yang pasrah. Di bawah tatapan para bangsawan yang hadir, Drupadi dipertaruhkan sekaligus dinista. Puncaknya, di sini hak-hak Pandawa atas Astina dirampas Kurawa.

Memang banyak hal muram hadir dalam Mahabharata, banyak hal ganjil bersuara dan sana. Tetapi yang paling getir tentu apa yang telah berlangsung di ruangan ini. Anak-anak Pandawa, yang cerdas dan menjunjung nilainilai kebenaran serta sifat-sifat ksatria, harus berhadapan dengan kenyataan pahit, mereka kalah dalam pertaruhan judi lalu kehilangan segalanva serra disingkirkan ke dalam pemhuangan 13 tahun di hutan. Sejumlah pertanyaan sempat menggantung di sana yang tak mudah dicarikan jawaban: Apa yang membuat Yudhistira rela mempertaruhkan masa dan saudara-saudaranya di meja dadu yang tak lebih lebar dari satu meter persegi itu? Atau sekalipun sebagai saudara sulung, berhakkah ia bertindak sejauh itu, bahkan menjadikan Drupadi sebagai taruhan? Adakah ia membayangkan kemenangan dalam judi itu yang akan memberinya kesejahteraan atau kehormatan? Entahlah! Bahkan para orang tua yang menyaksikan peristiwa itu tak ada yang mampu memberi jawab. Mereka hanya tertunduk, terkubur dalam perasaan tak terlukiskan, sebagaimana Kunti, Drestarasta, atau Widura. Kecuali Bima yang menunjukkan ketidaksukaannya atas permainan yang dirancang Sakuni itu. Maka ketika Kurawa mempermalukan dan menelanjangi Drupadi, putri terhormat dari Pancala itu, Bima tak bisa lagi menahan diri. Dia turun ke gelanggang dan meradang dengan sumpahnya,

 “Hai, Duryudana, Dursasana, Sakuni, kalian boleh menang taruhan dan mengambil negeri ini, tapi apa hakmu menghina Drupadi? Dengar, aku telah menyaksikan semuanya, dan di hadapan kalian kuucapkan sumpahku, kelak aku akan datang dengan pembalasan. Akan kurobek tubuhmu, dan kuminum darahmu......!”

Rupanya kehidupan telah memaksakan sisi nisbinya di sini. Karena itu Yudistira, Arjuna, Nakula dan Sadewa memilih diam. Juga Bhisma. Senapati agung nan bijaksana itu hanya memandang datar dari balkon dengan mulut terkatup terhadap semua hal yang berlangsung. Juga Durna. Tak ada yang dapat ia lakukan. Permusuhan antara Pandawa dengan Kurawa tampaknya telah tiba di puncak.

Ketika sebuah peristiwa terjadi, saat pilihan telah diambil, kita pun hanya bisa menunggu apa gerangan setelah itu. Maka Pandawa yang kalah harus segera angkat kaki, meninggalkan masa-masa indah di Astina menuju satu takdir baru: hidup dalam pengasingan. Sementara Duryudana dan saudara-saudaranya, bersama sang penasihat Sakuni, boleh merayakan kemenangan, dengan penuh suka-cita. Demikianlah satu babakan hidup berlangsung. Saat semuanya tiba, maka yang kemudian terlihat adalah ada yang keluar sebagai pemenang dan ada pula yang kalah. Hingga di bagian ini sepertinya tak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Mungkin mereka tahu kemenangan itu dicapai melalui cara yang curang. Tapi bagi yang memilih bertindak murni, seperti Yudhistira, juga sadar akan berhadapan dengan risiko: entah akhirnya menang atau kalah. Siapa yang tahu? Karena itu kita agak jadi mengerti kenapa Yudhistira memilih diam saat dikalahkan. Ia tak mempersoalkan bagaimana ia kalah. Ia memang bukan pemenang. Bahwa antara kalah dan menang itu kadang jaraknya sedemikian tipis, sekalipun tak juga mudah buat digenggam. Tapi toh dengan demikian tak berarti segalanya telah berakhir. Tiga belas tahun selepas pesta judi di ruangan itu, dua keluarga keturunan Bharata ini, Pandawa dan Kurawa, dipertemukan kembali oleh takdir. Tidak dalam reuni keluarga tetapi di jalan yang pilu. Mereka harus saling angkat senjata dan baku bunuh, dalam perang saudara, perang Kuru, yang dikenal dengan Bharatayuda.  Kita kemudian paham perang itu pun ternyata bukan pertanda berakhirnya suatu riwayat. Sebab, sesudahya banyak hal tragis masih akan berlangsung. Mungkin karena itu, Astina dengan segala cekam misterinya, tetap hadir membayang di tengah kerajaan hidup kita hari ini. Darinya orang-orang dapat menilai sejenak tentang keteguhan hati, seperti Bhisma. Dengan kata lain, ini adalah soal risiko dan hikmah pilihan hidup. Sebelum perang pecah, Bhisma berkata kepada Drestarasta,

“Yudistira dan saudara-saudaranya akan memenangkan perang ini. Mereka dipayungi keberuntungan, sebab Pandawa meneguhkan kekuatannya dengan kebenaran dan keadilan, sesuatu yang tak pernah bisa dimengerti oleh Duryudana.......”

Di sana Bhisma hendak menegaskan bahwa sekalipun segalanya tampak nisbi, orang tetap perlu menggamit keyakinan tentang sesuatu sebagai pegangan hidup. Misalnya berteguh dengan nilai-nilai moral. Juga sebagaimana sikap yang diambil Bhisma dalam Bharatayudha:

”Orang seharusnya tetap menjadi ksatria meski tahu akan berada di pihak yang kalah”.

Bagaimana pun setiap peristiwa, setiap pergulatan, akan hadir dengan wajahnya yang subtil, tak pernah mudah dipahami. Sebagaimana kita tahu satu kemenangan ternyata tak seluruhnya berarti menang, begitu juga dengan kekalahan. Bharatayuda memang kemudian berakhir. Dimenangi lima putra Pandu, Pandawa, yang mengantarkan Yudhistira memegang tahta Astina. Sedangkan Kurawa, keturunan Drestarasta, yang berjumlah seratus orang itu, karena itu ia jadi mayoritas, adalah pihak yang kalah. Duryudana, Dursasana dan Sakuni dirajam habis oleh Bima, sesuai sumpahnya dulu. Tapi setelah itu apa? Yang kita tahu, meski keluarga Kurawa, lambang sifat-sifat buruk manusia itu, tumpas dari Astina ternyata mereka tak serta merta kehilangan otoritasnya atas dunia kita. Sampai hari ini.

Penulis:
Ngurah Dwaja di SMAN 42