Mengacu pada pemikiran bahwa guru adalah "Kunci Pembuka Pintu Keberhasilan Siswa, maka sudah selayaknya guru harus apresiatif, kreatif, inovatif,interaktif,komunikatif,edukatif dan profesional dalam mengajar. Salah satu langkah untuk mengarah ke sana adalah dengan mengungkapkan berbagai pikiran, pendapat, ide dan gagasan yang dituangkan melalui tulisan. Sobat! Selamat menulis, dan Salam Seni Budaya selalu!
Tampilkan postingan dengan label WAYANG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WAYANG. Tampilkan semua postingan
Jumat, 09 Januari 2015
KITA SEMUA WAYANG: MENGENAL PRESIDEN AMERIKA SERIKAT KE 1 “GEORGE WA...
KITA SEMUA WAYANG: MENGENAL PRESIDEN AMERIKA SERIKAT KE 1 “GEORGE WA...: Kita Semua Wayang - Sabtu, 10 Januari 2015 - 12:10 WIB George Washington (1732-1799) “Marilah kita ciptakan suatu pedoman...
Rabu, 07 Januari 2015
GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: W A Y A N G ” Oleh Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro
GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: W A Y A N G ” Oleh Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro: Pentas wayang Golek Pentas wayang kulit GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS - Kamis, 08 Januari 2015 - Menurut penyelidikan para...
W A Y A N G ” Oleh Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro
GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS - Kamis, 08 Januari 2015 - Menurut penyelidikan para ahli, wayang
adalah salah satu kebudayaan asli bangsa Indonesia, penyelidikan tersebut
menghubungkan pertunjukan wayang dengan tradisi cara berfikir alam kepercayaan
lama. Dalam perkembangannya setelah
melalui proses akulturasi dengan kebudayaan dari luar, khususnya dari India dan
kebudayaan Islam, wayang menjadi bentuk manifestasi seni budaya yang tinggi
mutunya. Dalam hal ini para seniman pada
zaman Islam ikut memberikan saham dalam pembinaan dan pengembangan seni wayang.
1.
Awal
pembentukan rupa wayang
Dilihat dari bentuk fisiknya,
perkembangan pertama dari wayang sudah dimulai pada zaman prasejarah sebagai
bentuk perwujudan dari arwah nenek moyang.
Boneka batu yang dikenal dengan nama unduk
adalah perwujudan pertama dalam wayang berdasarkan kepercayaan animisme.
Dalam sejarah perkembangan wayang,
kepercayaan iti selalu menjadi landasan pemikiran. Leluhur wayang ini adalah bentuk perlambangan
nenek moyang yang kehadirannya didukung oleh hasrat manusia untuk memuja nenek
moyang.
Pada zaman Hindu wayang mengalami
perkembangan sesuai tradisi kebudayaan dari India. Unsur-unsr kebudayaan dari India ini berhasil
diserap dan dicerminkan dengan tradisi kebudayaan asli Indonesia dan membuahkan
seni wayang yang lebih luas nilai kegunaannya.
Karena wayang itu pula terciptalah berbagai jenis seni yang berpadu satu
sama lain seperti seni pedalangan atau seni karawitan, seni tari dan seni rupa. Selanjutnya seni wayang menjadi wadah tumpuan
dari berbagai nilai budaya bangsa karena karena pesan yang dibawakan. Masyarakat dididik melalui seni wayang untuk
mencintai hidup yang baik berdasarkan ajaran agama. Wayang akhirnya berhasil membudaya dalam
masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa.
Pada zaman Hindu boneka yang telah dirintis sebelumnya, mengalami
perubahan bentuk dalam usaha memujudkan tokoh yang berperan dalam cerita
pahlawan atau wiracarita. Wiracarita yang bersumber dari kisah
Ramayana dan Mahabharata yang melahirkan bentuk baru dalam sejarah seni wayang.
Dalam perkembangan seni rupa pada waktu
itu menjadi proses perubahan konsep dalam bentuk pernyataan visual. Poses pembentukan rupa dari wayang dapat
diikuti pada pahatan relief candi.
Sebutan langgam wayang dalam mewujudkan tokoh cerita pada relief candi
zaman Singasari dan Majapahit menjelaskan bagaimana gaya relief candi Jawa
Tengah telah ditinggalkan untuk beralih pada bahasa pengucapan bentuk rupa yang
baru. Perwujudan tokoh cerita berubah
menjadi gaya stilistik dan mengarah ke bentuk perlambangan. Stilasi bentuk manusia dan binatang dengan
melepaskanbentuk berdasarkan pedoman ikonografi seni India menghasilkan
prototipe wayang yang kemudian berkembang pada Islam. Perwujudan semacam ini mirip dengan bentuk
wayang kulit yang sampai sekarang masih dipertahankan di Bali.
Masih selalu menjadi bahan perbedaan
pendapat, mana yang lebih dulu dicipta, apakah wayang kulit atau relief
candi. Apakah wayang kulit yang
mencontoh relief ata sebaliknya. Tetapi
yang jelas ialah bahwa pada zaman Hindu telah diletakkan dasar-dasar rupa
wayang untuk dikembangkan pada xaman Islam.
Proses pembentukan rupa wayang klaik dicapai pada zaman Islam sebagai
karya seni rupa. Dalam sejarah wayang dikenal
pula jenis wayang beber yang dilihat
dari teknik pembuatannya merupakan karya seni lukis. Tiap adegan cerita dilukiskan pada kain
sebagai sarana pedalangan. Dalam hal ini
seorang dalang tidak memainkan boneka wayang melainkan adegan wayang dengan
membeberkan gulungan kain yang bergambar.
2.
Peranan Kebudayaan
Islam
Sulituntuk
menjawab dengan tepat bilamana ada usaha pertama untuk memainkan wayang sebagai
boneka wayang. Usaha pertama untuk
memainkan wayang diperlukan penemuan teknik baru, yaitu untuk menggerakkan
bagian tangan dari boneka. Bagian tangan
boneka ini, seperti juga pada tubuhnya, diberi pegangan yang disebut gapit.
Usaha untuk melengkapi wayang dengan peralatan agar dapat dimainkan
menurut penyelidikan dari zaman Islam.
Segala gerak dari tokoh wayang dihidupi oleh keterampilan dalang dalam
menggerakkan tangan wayang dengan sikap tertentu. Agama Islam yang pada dasarnya tidak
menghendaki perwujudan makhluk hidup dalam bentuk nyata tidak sampai mengurangi
nilai seni rupa wayang. Tidak sedikit
peranan para pemimpin Islam dalam mengembangkan dan menyempurnakan seni wayang
dengan menambah beberapa jenis wayang seperti wayang krucil dan wayang klitik dan kemudian wayang purwa. Tubuh wayang krucil dibuat dari bahan kayu
gepeng sedangkan tangan dari kulit yang dapat digerakkan sepertu pada wayang
kulit biasa. Wayang krucil atau wayang klitik
mengambil lakon dari cerita yang bersumber dari sejarah Majapahit dan
Blambangan. Lakon wayang ini juga
dimainkan dalam wayang gedog yang dibuat dari papan kayu yang diukir.
Bentuk
rupa dari wayang krucil dan wayang gedog dapat dipandang sebagai bentuk
permulaan dari jenis wayang golek. Wayang golek benar-benar merupakan jenis wayang boneka dengan bentuk tiga
dimensi. Meskipun perwujudannya plastis,
tetapi wajah dan rut muka tokoh wayang dengan tata warnanya masih mengingatkan
bentuk rupa tokoh-tokoh wayang kulit.
Juga apabila dilihat dari segi stilasi dan pengembangan dari bentuk
fisik wayang kulkit. Hal ini tidak
menutup kemungkinanbahwa kelahiran dari kedua jenis wayang terssebut dalam
waktu yang bersamaan, mengingat ide dari boneka wayang nenek moyang yang tiga
dimensional telah dikenal zaman prasejarah.
Mengingat dasar pemikiran animistik pada zaman Hindu masih memegang
peranan, maka tidak mustahil bahwa jenis wayang boneka ini ikut mendasari
kelahiran wayang golek
Seperti
telah diterangkan di depan, nama Islam banyak menghapus alam pikiran lama,
karenanya seni wayang masih dapat dipelihara terus. Dan dalam usaha mengembangkan seni wayang
sebagai sarana da’wah dan media pendidikan para wali dan Sultan berjasa dalam
menciptakan bentuk wayang baru. Di
samping berhasil mengembangkan bentuk rupa wayang, mereka juga mampu memberikan
isi dan pesan barudalam lakon wayang dengan aspek-aspek pandangan falsafah
baru. Lakon wayang yang bersumber pada
cerita Islam seperti cerita Nabi dari Kitab Ambiya dibutuhkan bentuk sumber
rupa baru yang dikenal dengan nama wayang Dobel.
Demikian pula wayang Wahana dan wayang yang menyebabkan Islam
berhasil menciptakan bentuk rupa dan isi lakon baru adalah karena keduduan
wayang yang telah membudaya dalam masyarakat seperti yang telah diterangkan di
depan. Meskipun Islam tidak mengakui
jenis kepercayaan yang animistik dan bersifat Hindu/Budha, namun Islam tidak
menolak wayang sebagai media
pendidikan. Dalam hal ini para mubalig
dan para pemimpin masyarakat Islam, sesuai dengan kepentingan politik
pemerintahannya, memakai dan mengembangkan seni wayang. Karenanya seni wayang sebagai bentuk kesenian
klasik dapat kesempatan untuk berkembang terua di pusat-pusat pemerintahannya,
di samping jenis kesenian klasik lainnya.
Hasil dari pembinaan dan penyebaran jenis seni klasik ini, timbullah
berbagai langgam atau gaya seni wayang kulit atau wayang golek dari Surakarta yang berbeda dengan gaya dari Yogyakarta atau
dari Cirebon. Perbedaan gaya seni ini
meliputi kepandaian teknik sesuai dengan pengaruh tradisi seni daerah
setempat. Sejalan dengan timbulnya
berbagai gaya wayang, timbul pula jenis-jenis wayang baru yang mengambil lakon
baru pula. Ada lakon yang bersumber pada
cerita pokok dari wayang lama, cerita tentang agama, cerita tentang sejarah
sampai kepada cerita tentang kehidupan binatang.
pustaka:
prof. Dr. wiyoso Yudoseputro
Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia
Angkasa – Bandung 2000
Senin,
05 Januari 2015—14:31 WIB
Slamet
Priyadi
Di
Pangarakan, Bogor
Jumat, 26 Desember 2014
ȘAḌ-ANGGA DAN WAYANG KULIT Oleh Prof. Dr. Edi Sedyawati
![]() |
| Wayang Kulit Pandawa Lima |
KITA SEMUA WAYANG - denmaspriyadi.blogspot.com - Sabtu, 27 Desember 2014 - Di dalam
estetika Hindu dikenal rumusan bahwa suatu hasil seni untuk bisa dikatakan
indah dan berhasil harus memenuhi enam (ṣaḍ) syarat, sekumpulan syarat yang
terdiri atas enam bagian atau perincian (angga), karena itu rumuan itu disebut Șaḍ-angga. Rumusan ini aslinya didapatkan dalam
pembicaraan mengenai seni lukis dari abad VII, tetapi secara umum dapat pula
dipakai untuk bentuk-bentuk kesenian yang lain.
Syarat-syarat
tersebut adalah:
1.
Rῡpabheda, artinya
pembedaan bentuk.
Maksudnya, bentuk-bentuk yang digambarkan harus
dapat segera dikenal oleh yang melihatnya.
Bunga harus segera dapat dikenali
sebagai bunga, pohon sebagai pohon, orang laki sebaggai orang laki, orang
perempuan sebagai orang perempuan, anak kecil sebagai anak kecil, dan
seterusnya. Pokoknya di sini diminta
ketrampilan si seniman menyatakan bentuk-bentuk tanpa meragukan.
2.
Sãdrśya, artinya
kesamaan dalam penglihatan.
Maksudnya,
bentuk-bentuk yang digambarkan harus sesuai dengan ide yang terkandung di
dalamnya. Misalnya sebuah pohon dengan
bunga-bunga dan buah-buah yang dimaksudkan sebagai lambang kesuburan, haruslah
digambarkan dengan memberikan sugesti yang cukup mengenai kesuburan ini,
misalnya dengan menggambarkan batang-batangnya yang serba membulat kecembung-cembungan,
bunga-bunganya merekah dengan kelopak-kelopak yang tebal, buah-buahnya serba
membulat, seolah-olah semua itu diairi oleh air sari yang pada dasarnya adalah esensi dari kesuburan.
Demikian
juga misalnya sang Buddha Sãkyamuni digambarkan
dengan badan yang tegap dan kukuh karena tokoh ini melambangkangkan keteguhan
batin dan kekuatan ajaran sucinya. Kalau
kita terapkan pada wayang kulit, maka kita melihat bahwa sãdrśya ini terdapat
misalnya antara watak Janaka yang rendah hati dan selalku siaga dengan wujudnya
yang luruh tangguh itu; antara watak Kresna yang cerdik dan waspada dengan
wujudnya: leher condong dengan muka terangkat lurus ke depan; antara Durna yang licik dengan raut
mukanya yang serba berkerinyut, dan seterusnya.
Bahkan lebih terperinci lagi, keadaan-keadaan batin tertentu dari
beberapa tokoh utama wayang digambarkan dalam wujud –wujud dengan nuansa yang
berbeda-beda, yang disebut wanda.
Di sini kita lihat bahwa dalam wayang
prinsip sãdrśya diterapkan pada seperangkat tokoh cerita yang sekaligus adalah
tokoh-tokoh mitologis, yang masing-masing telah diberi penggambaran wataknyanya
yang khas, sehingga akhirnya kita mendapatkan suatu pematokan gaya berdasarkan
watak yang dikuatkan oleh tradisi.
Dengan adanya pengertian mengenai sãdrsya ini, yaitu kesejajaran wujud
dan ide, wujud dan watak, maka orang maka orang akan menertawakan dan masyakat menolak,
seandainya ada seniman yang mengadakan eksperimen misalnya dengan menggambarkan
Janaka dengan badan besar dan muka mendongak.
3.
Pramãna, artinya sesuai dengan ukuran yang tepat.
Sebagai
konsekuensi sãdrśya maka tradisi
menentukan patokan mengenai ukuran-ukuran dari tokoh-tokoh mitologis yang pada
dasarnya adalah perwujudan dari ide-ide tertentu, ide-ide yang tetap ini harus
diteguhkan dengan ukuran-ukuran yang tetap pula. Di sini proporsi menjadi sangat penting.
Perbandingan
antara besarnya Ṥyiwa dengan Pãrwãti
harus sesuai dengan kedudukannya sebagai dewa utama dengan istri yang merupakan
pesertanya tetapi juga sumber kekuatannya.
Perbandingan antara panjang muka dengan tinggi dada dan panjang kaki:
ukuran dan perbandingan ini diatur misalnya dengan tala (= jengkal) sebagai unit pengukur terbesar, yang masih
terperinci atas unit-unit yang kecil, seperti anggula yang panjangnya seperdua belas tala. Dewa-dewa utama diberi ukuran 10 tala 4 anggula, istri-istri mereka 10 tala,
asura, yaksa dan apsara 9 tala, dan seterusnya. Dalam penggambaran tokoh-tokoh itu
selanjutnya diperinci pula tinggi dahinya, panjang hidungnya, jarak antara
hidung dan dagu, tinggi leher, dada, perut dan seterusnya. Pendeknya, tradisi mengatur keseimbangan
bentuk dan ide ini dengan menetapkan harmoni ukuran-ukutannya.
Di samping berhubungan
dengan ukuran, prinsip pramãna juga
menuntut dipakainya pola-pola bentuk yang tepat dalam penggambaran. Misalnya, mata yang berbentuk busur untuk
orang yang beryoga, mata seperti daun padma untuk orang yang ketakut-takutan,
mata seperti mata kelinci untuk orang yang marah dan sebagainya. Jadi, pada dasarnya pramãna adalah norma
mengenai pemakaian bentuk-bentuk dan ukuran-ukuran yang telah direka dengan
setepat-tepatnya.
Bagaimanakah
penerapan norma ini di dalam seni rupa wayang kulit? Kita lihat bahwa rekaan pola-pola ini pun
ada, malahan telah amat berkembang, sehingga kita dapatkan misalnya
bentuk-bentuk mata seperti gabahan,
kedelèn, telengan, dan sebagainya; bentuk-bentuk hidung walimiring, pangotan, bentulan, pelokan,
pelokan ageng, sumpel, brutu, cempaluk, térong glatik, térong kopèk; bentuk-bentuk
leher yang rebah, mayat, manglung, mapak, keker, dan ngadek; dan demikianlah seterusnya bagian tubuh yang lain seperti
dahi, pipi, gigi, pundak, lambung, perut, sikap tangan, rambut terurai,
sanggul, jenggot, dan bahkan tiap bagian pakaian dan perhiasan masing-masing
diperinci lagi. Maka watak dari suatu
tokoh itu akan dapat dikesankan melalui pilihan atas sekumpulan pola
seperti: mata gabahan, hidung walimiring, dahi
batukan, pipi memet, gigi retesan, leher rebah
atau manglung tergantung dari wandanya, pundak pajek, atau mlèrèt tergantung
dari wandanya, lambung nembat, perut ambangkèk sikap tangan nyempurit,
rambut lungsèn, gelung minangkara,sumping waderan, sengkang (subang) kinjeng
mas, kalung tanggalan gelang dapur gangsa, dodot (kain) bokongan bunder putran, sedang jarak
antara kedua kakinya masuk golongan ciut. Demikianlah watak-watak di dalam wayang
dibentuk dengan membuat komposisi dari perincian bagian-bagiannya, perincian
mana telah mewakili ide-ide tertentu.
Hubungan antara bentuk dan ide telah demikian rekat sehingga tak akan
kita jumpai misalnya penggambaran Karna yang tinggi hati itu dengan leher rebah
yang menyiratkan kerendahan hati.
4.
Warnikhabangga,
yaitu penguraian dan pembikinan warna.
Di dalam seni lukis dan juga dalam seni rupa wayang kulit, sudah tentu
warna mempunyai peranan yang penting.
Syarat ini adalah
meliputi pembuatan warna-warna dasar dan
penyediaan alat-alat lukis, pencampuran warna, dan pemakaian warna secara
tepat. Ini pun menjadi syarat penting
dalam seni rupa wayang, karena cara pembuatan, bahan-bahannya, maupun cara
melekatkannya akan mempunyai pengaruh besar
pada keawetan dan sinar dari warna-warna tersebut, sedang pemilihan dan
komposisinya harus pula dengan watak si tokoh, sehingga kesan keseluruhan
adalah suatu keserasian yang sesuai untuk tokoh yang bersangkutan. Termasuk ke dalam syarat ini adalah pengetahuan akan perlambangan warna.
Unsur-unsur
wadag dalam seni lukis adalah garis
dan warna, karena itu kedua-duanya harus diatur dengan setepat-tepatnya. Dalam hal ini tradisi menetapkan pramãna sebagai norma pengendali garis, warnikabhangga sebagai norma pengatur
warna.
5.
Bhãwa, bisa
diartikan sebagai suasana dan sekaligus pancaran rasa. Suasana dan pancran rasa ini, misalnya suatu suasana sedih,
haruslah dinyatakan dengan jelas, sehingga si penikmat seni bisa diantar
melalui jalur yang tak meragukan ke ara perasaan yang dimaksudkan. Hasil seni ini misalnya, harus bisa
menimbulkan rasa sedih dengan sekuat-kuatnya.
Kalaupun ada rasa lain yang dapat menyertai dalam suatu adegan sandiwara
atau suatu karya seni rupa, misalnya rasa kepahlawanan menyertai rasa
kesedihan, tetapi kalau yang diberi tekanan kesedihannya, maka rasa yang lain
itu dalam pengungkapannya harus tetap berkedudukan sebagai rasa tambahan,jangan
sampai mengimbangi sehingga meragukan sifat rasa utamanya.
Dalam
estetika Hindu, bhãwa, yaitu suasana
atau juga emosi yang dibagi atas dua
macam: yang tetap atau bertahan (sthãyi-bhãwa) dan yang mudah berubah (wyabhicãri). Bhawa yang tetap ada 9, yaitu: 1) cinta, 2) tawa, 3) kesedihan, 4)
kemarahan, 5) semangat, 6) ketakutan, 7) kemuakan, 8) keheranan dan 9)
ketenangan, ketentraman batin. Adapun
bhãwa yang mudah berubah ada 33 macam, yang masing-masing bisa dikaitkan pada
salah satu bhãwa yang tetap. Demi hadirnya
keindahan dalam suatu karya seni yang bermutu, maka salah satu bhãwa yang tetap
harus selalu menonjol mengatasi bhãwa yang mudah berubah. Jika suatu karya melebih-lebihkan
pengungkapan wyabhicãri-bhãwa,maka
karya itu menjadi sentimental.
Terdapatkah
pengertian bhãwa ini dalam seni rupa
wayang kulit? Kiranya ada. Bukankah dalam penggambaran yang kuat dari si
tokoh wayang Yudistira kita melihat bhãwa
ketenangan, kelepasan, memancar daripadanya? Dan juga semangat dan kepercayaan diri
sendiri terlihat sebagai bhãwa Srikandi;
kegembiraan yang penuh humor dalam Petruk; kelicinan, akal dan egoisme dalam durna; nafsu dan
kebodohan dalam Pragalba, dan seterusnya?
Bhãwa ini bukanlah sesuatu
yang dengan sendirinya akan muncul asal aturan-aturan pramana dan warnibhangga
diikuti. Bhãwa ditentukan oleh penggarapan
dari aturan-aturan tersebut, jadi bergantung pada bakat dari masing-masing
seniman.
6.
Lãwanya, berarti keindahan, daya pesona. Seperti halnya dengan bhãwa, lãwanya ini pun
adalah suatu kualitas yang ditentukan oleh bakat dan bukan semata latihan
ketrampilan dari si seniman. Dengan
kehadiran lãwanya, suatu hasil seni
akan menimbulkan kesan yang mendalam pada penikmat, bahkan bisa mempengaruhi
batinnya. Seperti misalnya kalau orang
melihat patung Budha dari Sarnath (zaman
Gupta) yang dengan kesederhanaan komposisi tapi didampingi keluwesan
garis-garis dan pembidangannya, memancarkan keagungan, ketenteraman dan kekhidmatan.
Demikian
juga dalam seni rupa wayang kulit kita sering menjumpai karya yang memancarkan
pembawaan tertentu. Kita tahu, bahwa
dalam wayang kulit seluruh bagian dari si tokoh wayang telah mempunyai
perincian dengan penentuan pola-polanya, sehingga si seniman seolah-olah tidak
mempunyai kesempatan lagi untuk kreatif.
Namun, bakat besar dari si seniman akan memunculkan bhãwa dan lãwanya dengan
merakit sejumlah pola yang telah ditentukan tadi menjadi satuan yang
mengagumkan, dan di bagian-bagian tertentu memberikan tekanan-tekanan efektif
dengan tatahantatahan yang lebih rumit atau sunggingan yang lebih
menyolok. Tokoh wayang yang dihasilkan
akan tetap konvensional karena mengikuti semua ketentuan yang ada, tapi ia akan
mempunyai pancaran keindahan yang khas.
Itulah yang dicita-citakan oleh syarat lãwanya.
Demikianlah
perumusan tentang syarat-syarat keindahan dalam kesenian Hindu. Sesuaikah ini semua untuk menilai kesenian –
terutama yang tradisional – kita, kami silahkan masing-masing pembaca untuk
mengkajinya. (Prof. Dr. Edi Sedyawati, Pertumbuhan
Seni Pertunjukan, hal. 14–18 Penerbit Sinar Harapan, cetakan kedua, Tahun 2000
Jumat,
26 Desember 2014 – 17:05 wib
Slamet
Priyadi di Pangarakan, Bogor
Langganan:
Postingan (Atom)




