Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WACANA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 Mei 2016

KIRIMAN DRS. I GUSTI NGURAH DWAJA : "BUDI PEKERTI"

Blog Ki Slamet 42 : Guru SMAN 42 Jakarta Menulis
Sabtu, 07 Mei 2016 - 01:05 WIB

Image "Drs. I Gusti Ngurah Dwaja" ( Foto: SP )
DRS. I GUSTI NGURAH DWAJA ( Penulis Buku )
Budi Pekerti

Secara umum Budi Pekerti berarti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupanini.

Ini adalah tuntunan moral yang paling penting untuk orang Jawa tradisional. Budi Pekerti adalah induk dari segala etika ,tatakrama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan , pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Pertama-tama budi pekerti ditanamkan oleh orang tua dan keluarga dirumah, kemudian disekolah dan tentu saja oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.

Pada saat ini dimana  sendi-sendi kehidupan banyak yang goyah karena terjadinya erosi moral,budi pekerti masih relevan dan perlu direvitalisasi.
Budi Pekerti yang mempunyai arti yang sangat jelas dan sederhana, yaitu : Perbuatan( Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh Pikiran yang jernih dan baik ( Budi).

Dengan definisi yang teramat gamblang dan sederhana dan tidak muluk-muluk,  kita semua dalam menjalani kehidupan ini semestinya dengan mudah dan arif dapat menerima tuntunan budi pekerti.

Budi pekerti untuk melakukan hal-hal yang patut, baik dan benar.Kalau kita berbudi pekerti, maka jalan kehidupan kita paling tidak tentu selamat, sehingga kita bisa berkiprah menuju ke kesuksesan hidup, kerukunan antar sesama dan berada dalam koridor perilaku yang baik.

Sebaliknya, kalau kita melanggar prinsip-prinsip budi pekerti, maka kita akan mengalami hal-hal yang tidak nyaman, dari yang sifatnya ringan, seperti tidak disenangi/ dihormati orang lain, sampai yang berat seperti: melakukan pelanggaran hukum sehingga bisa dipidana.

Penanaman Budi Pekerti

Esensi Budi Pekerti, secara tradisional mulai ditanamkan sejak masa kanak-kanak, baik dirumah maupun disekolah, kemudian berlanjut dalam kehidupan dimasyarakat.

Dirumah dan keluarga
 
Sejak masa kecil dalam bimbingan orang tua, mulai ditanamkan pengertian baik dan benar seperti etika, tradisi lewat dongeng, dolanan/permainan anak-anak yang merupakan cerminan hidup bekerjasama dan berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan.

Berperilaku yang baik dalam keluarga amat penting bagi pertumbuhan sikap anak selanjutnya. Dari kecil sudah terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun sewu ( permisi), nderek langkung (perkenankan lewat sini).

Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama, apakah itu bahasa halus (kromo) atau ngoko (bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa( penggunaan bahasa menurut tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain.

Bahasa kromo dan ngoko
 
Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa,yaitu : Kromo, bahasa halus dan ngoko, bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu dihormat, sedangkan ngoko biasanya dipakai antar teman.
Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh :
Bahasa Indonesia : Saya mau pergi.
Kromo                     : Kulo bade kesah.
Ngoko                     : Aku arep lunga.

Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko, sedang anaknya menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai kata-kata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari secara teori.


Ora ilok, suatu kearifan
 
Orang tua zaman dulu sering bilang : ora ilok,artinya tidak baik, untuk melarang anaknya.Jadi anak tidak secara langsung dilarang, apalagi dimarahi.Ungkapan tersebut dimaksudkan , agar si anak tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau mengganggu keharmonisan alam. Misalnya ungkapan : Ora ilok ngglungguhi bantal, mengko wudhunen (Tidak baik menduduki bantal , nanti bisulan). Maksudnya supaya tidak menduduki bantal, karena bantal itu alas kepala. Meludah sembarang tempat atau membuang sampah tidak pada tempatnya, juga dibilang ora ilok, tidak baik. Tempo dulu, orang tua enggan menjelaskan, tetapi sebenarnya itu merupakan kearifan. Lebih baik melarang dengan arif, dari pada dengan cara keras.

Tembang yang bermakna

Pada dasarnya, pendidikan informal dirumah, dikalangan keluarga adalah ditujukan kepada harapan terbaik bagi anak asuh. Coba perhatikan ayah atau ibu yang meninabobokkan anak dengan kasih sayang melantunkan tembang untuk menidurkan anak , isinya penuh permohonan kepada Sang Pencipta, seperti tembang : Tak lelo-lelo ledung, mbesuk gede pinter sekolahe, dadi mister, dokter, insinyur. (Sayang, nanti sudah besar pintar sekolahnya, jadi sarjana hukum, dokter atau insinyur).

Atau doa dan  permohonan yang lain: Mbesuk gede, luhur bebudhene,jumuring ing Gusti, angrungkubi nagari (Bila sudah dewasa terpuji budi pekertinya, mengagungkan Tuhan dan berbakti kepada negara).

Pendidikan tradisional zaman dulu mengandung kesabaran, nerimo ing pandhum, pasrah, ayem tentrem, tansah eling marang Pangeran ( selalu dengan sabar menerima dan mensyukuri pemberian Tuhan, pasrah. Pengertian pasrah adalah tekun berusaha dan menyerahkan keputusan kepada Tuhan.Hati tenang tentram, selalu ingat kepada Tuhan).Perlu digaris bawahi bahwa kepercayaan orang Jawa tradisional kepada Tuhan itu sudah mendarah daging sejak masa kuno, sehingga anak-anak Jawa sejak kecil sudah sering mendengar kata-kata orang tua : Kabeh sing neng alam donya iku ana margo kersaning Gusti. ( Semua yang ada didunia ini ada karena kehendak Tuhan).Sehingga bagi orang Jawa tradisional, apapun yang terjadi, akan selalu pasrah dan mengagungkan Gusti/Tuhan. Itu sudah menjadi watak bawaan yang mendarah daging.
 
Biasanya ketika anak mulai berumur lima tahunan, secara naluri mulai diterapkan ajaran unggah-ungguh, sopan santun, etika, menghormati orang tua dan orang lain. Inkulturisasi, penanaman etika ini sangat penting karena menjadi dasar supaya si anak hingga dewasa dapat membawa diri dan diterima dalam pergaulan dimasyarakat, mampu bersosialisasi dan punya budaya malu. Punya sikap mendahulukan kepentingan orang lain, peka dan peduli kepada sekeliling dan lingkungan. Punya kebiasaan hidup rukun dan damai, penuh kasih sayang dan hormat dilingkungan keluarga dan masyarakat. Penanaman sikap sejak dini ini penting karena akan merasuk dalam rasa, sehingga kepekaannya tidak mudah hilang.

Peduli Lingkungan
 
Pendidikan yang mengarah kepada peduli dan kasih terhadap lingkungan dan alam, juga sudah dimulai sejak usia belia.Anak-anak diberi pengertian untuk tidak bersikap sewenang-wenang kepada binatang dan tanaman dan juga menjaga kebersihan alam, tidak merusak alam. Anak kecil yang dirumahnya punya binatang peliharaan seperti anjing, kucing, burung, selalu diberitahu oleh orang tuanya untuk merawat nya dengan baik, memberi makan yang teratur, dijaga kebersihannya, kandangnya juga bersih  dan tidak boleh diperlakukan dengan sewenang-wenang dan justru harus dilindungi dan dikasihi.
Tanaman dan pepohonan juga harus dirawat dengan baik, disiram setiap sore, kadang-kadang diberi pupuk, dijaga supaya tumbuh subur dan sehat dan cantik penampilannya ,sehingga enak dipandang.

Tanaman yang dirawat akan membalas kebaikan kita, daunnya, , bunganya, buahnya, kayunya, akarnya, bisa memberi faedah yang berguna.
Bumi tempat kita berpijak, juga harus dilindungi, diurus yang baik, jangan asal saja menggali-gali tanah ,kalau memang tidak ada tujuan yang bermanfaat.Sumber air juga harus dijaga, tidak boleh dikotori.

Prinsipnya, kita harus dengan sadar dan sebaik-baiknya merawat, menggunakan dan mensyukuri semua pemberian alam dan Sang Pencipta.

Pendidikan formal
 
Selain pendidikan non-formal yang berkembang dan berpengaruh positif, pendidikan formal tentu saja mempunyai peran sangat penting.Anak dididik supaya cerdas dan punya budi pekerti.

Sejak ditaman bermain/Play group, TK,SD, anak diperkenankan  dan dibiasakan bersosialisasi, ditanamkan etika, sopan santun, kebersihan, rasa kebersamaan, rasa kebersamaan dialam sebagai satu kesatuan kosmos, ditanamkan rasa solidaritas dan kasih sayang demi keselarasan, keseimbangan dan perdamaian.

Tentu juga diajarkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam tradisi dan adat istiadat.
Dimasa penjajahan dulu, sekolah-sekolah pribumi seperti Taman Siswa, menanamkan pendidikan yang penuh dengan semangat juang dan nasionalisme, persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah.

Etika Pergaulan

Sebagai bangsa yang berbudaya, sebaiknya semua pihak menampilkan sikap yang santun dalam pergaulan, membuat orang lain senang, dihargai. Orang itu senang bila dihargai, disapa dengan kata-kata yang baik, termasuk wong cilik, orang ekonomi lemah.Wong cilik akan santun kepada orang yang menghargai mereka. Orang santun, meski derajatnya tinggi, tidak sombong, ini orang yang berbudaya.Orang yang berperilaku baik, berbahasa baik, berbudi baik, selain dihargai orang lain, secara pribadi juga untung, yaitu akan mengalami peningkatan taraf kejiwaannya, mengalami kemajuan batiniah.

Pelajaran dari cerita wayang
 
Cerita yang bersumber dari pewayangan juga penting untuk pendidikan budi pekerti secara umum.
Bagi orang Jawa tradisional, apa yang dikisahkan dalam wayang adalah merupakan cermin dari kehidupan, oleh karena itu wayang sangat populer di Jawa sampai saat ini.

Pelajaran yang bisa ditarik dari pewayangan adalah , antara lain :

1.            Didunia ini ada baik dan jahat, pada akhirnya yang baik yang menang, tetapi setiap saat yang jahat akan berusaha untuk menggoda lagi.
2.          Ikutilah contoh dari sikap hidup Pandawa, lima satria putra Pandu yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan satria-satria yang lain yang mempunyai watak luhur, jujur, sopan. Mereka berjuang demi kebenaran, untuk kesejahteraaan rakyat dan negara. Mereka dengan tekun dan ikhlas mendalami spiritualitas, kebatinan. Mereka menggunakan kemampuan, kesaktiannya untuk tujuan yang mulia. Satria itu orang yang berbudi pekerti, berwatak luhur dan bertanggung jawab.

Jangan mencontoh sikap para Korawa,seratus orang putra Destarata,yaitu Duryudana dan adik-adiknya beserta kroni-kroninya. Mereka itu tidak jujur, serakah mencari kekayaan materi dan kekuasaan, sikapnya kasar, tidak sopan, culas.Mereka digambarkan sebagai raksasa. Raksasa dalam bahasa Jawa adalah Buto artinya buta, tidak bisa membedakan yang baik dan yang jahat, yang salah dan yang benar.
3.               Dari epoch Ramayana, Prabu Rama, Anoman dan anah buahnya punya watak satria luhur, sebaliknya Rahwana, Sarpakenaka adalah raksasa-raksasa yang rakus dan keji, tanpa rasa kemanusiaan.
4.           Penghuni Alam Raya ini tidak hanya manusia, hewan dan mahluk yang kasat mata, tetapi juga ada mahluk-mahluk lain yang biasanya disebut mahluk halus, ada yang baik dan ada yang jahat wataknya.
5.           Ada alam Kadewatan yang dihuni dewa dewi yaitu di Kahyangan. Penguasa Jagat Raya adalah Sang Hyang Wenang yang dalam pelaksanaannya memberi wewenang kepada Batara Guru.
6.           Dalam hidupnya manusia selalu mensyukuri berkah dan anugerah Tuhan, selalu berdoa dan mengagungkan Tuhan, Sang Pencipta.Garis kehidupan manusia sesuai ketentuan yang diketahui dan diizinkan Tuhan.Titah bisa berkomunikasi dengan Sang Penguasa Jagat Raya, Tuhan melalui perantaraan dewa dewi ataupun secara langsung. Ini tentu merupakan anugerah Gusti kepada titahnya yang terpilih, tidak sembarang orang.Pemberitahuan Ilahi juga bisa diterima melalui wahyu secara langsung ataupun lewat mimpi.Dalam cerita wayang, seseorang bisa dikontak oleh utusan Kahyangan setelah bertapa ditempat yang sepi untuk beberapa saat(.Dewa-dewi dalam pengertian lain bisa disebut  Malaikat atau Angels).  
7.           Manusia yang sudah diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dibumi ini oleh Sang Pencipta, tidak layak kalau menyia-nyiakan hidupnya. Dia harus menjadi manusia yang berbudi pekerti, melaksanakan darma anak manusia untuk memayu hayuning bawana ( Melestarikan bumi dan mempercantik kehidupan dibumi.)               
                                                                            .
Legenda –legenda tanah Jawa menggambarkan :

1.              1.            Adanya raja-raja dan penguasa yang adil dan tidak adil;ada yang baik, bijak, tetapi ada juga yang bengis dan kejam.
2.           Kejujuran dan kelicikan.
3.           Pahlawan dan pengkhianat
4.           Negeri aman, adil makmur dan negeri yang serba semrawut dan kacau.
5.           Kekuasaan untuk rakyat dan penyalahgunaan kekuasaan. 
6.           Masyarakat adil makmur tata tentram kerta raharja adalah suasana kehidupan masyarakat yang didambakan orang Jawa.

Tatakrama dan Tata Susila

Tatakrama dan Tata Susila juga tak terlepas dari budi pekerti. Berlaku sopan, bertatakrama yang meliputi sikap badan, cara duduk, berbicara dll. Misalnya dengan orang tua berbahasa halus/kromo, dengan teman berbahasa ngoko. Bahasa Jawa memang unik, dengan mudah bisa menunjukkan sifat tatakrama seseorang.

Menghormati orang tua, guru, pinisepuh adalah wajib, tetapi tidak berarti yang muda tidak dihormati. Hormat kepada orang lain itu satu keharusan.
Itu kesemuanya termasuk dalam Tata Susila- etika moral, yang juga meliputi :
  
1.           Jujur, tidak menipu, welas asih kepada sesama. Berkelakuan baik tidak melakukan Mo Limo, yaitu : Main/berjudi; madon/ main perempuan atau selingkuh;mabuk karena minuman keras;madat menggunakan narkoba dan maling .Tentu saja tindakan jahat yang lain seperti membunuh, menista, mengakali,memeras, menyuap, melanggar hukum dan berbuat kejam ,harus tidak dilakukan.

2.           Berperilaku baik dengan menghindari perbuatan salah, supaya nama baik tetap terjaga dan supaya tidak kena malu.Terkena malu bagi orang Jawa tradisional adalah kehilangan kehormatan.Ada pepatah Jawa menyatakan : Kehilangan  semua harta milik itu tidak kehilangan apapun; kehilangan nyawa artinya kehilangan separoh hidup kita; tetapi kalau kehilangan kehormatan artinya kehilangan semuanya.

3.           Memelihara kerukunan, bebas dari konflik diantara keluarga, tetangga, kampung, desa, selanjutnya ditingkat negara dan dunia, dimana hubungan harmonis antar manusia teramat penting. Kerusakan dan kekacauan yang timbul didunia ini, yang paling besar adalah dikarenakan oleh sikap manusia’Ingatlah pepatah : Rukun agawe santoso artinya : Rukun membuat kita sehat kuat.

4.           Bersikap sabar, nrimo artinya menerima dengan ikhlas dan sadar jalan kehidupan kita dan tidak perlu iri kepada sukses orang lain Ingin hidup sukses harus berusaha dengan keras dan rajin dan mohon restu Tuhan, hasilnya terserah Tuhan.

5.           Tidak bersikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Ada petuah : Sepi ing pamrih, rame ing gawe.artinya bertindak tanpa pamrih dan selalu siap bekerja demi kepentingan  masyarakat dan kesejahteraan umat.Sikap yang demikian ,mudah menimbulkan tindakan ber-gotong royong, baik dalam lingkungan kecil maupun besar.

6.           Gotong Royong adalah kerjasama saling membantu dan hasilnya sama-sama dinikmati. Ini bisa berlaku diskop kecil seperti antar tetangga kampung yang merupakan kebiasaan yang sudah berjalan sejak masa kuno. Yang digotong royongkan antara lain : sama-sama membersihkan jalan desa, memperbaiki pra sarana seperti jalan desa, saluran air, balai desa dsb.Ada juga yang bergotong royong ramai-ramai membangun rumah seorang warga dll. Jadi pada intinya gotong royong adalah kerjasama antar beberapa pihak yang menghasilkan nilai lebih dipelbagai bidang yang dikerjakan bersama tersebut. Dasar gotong royong adalah sukarela dan untuk kepentingan bersama yang meliputi bidang-bidang perawatan, pembangunan, produksi dll.Tiap peserta akan menangani bidang pekerjaan yang merupakan kemahirannya dan itu akan bersinerji dengan ketrampilan peserta lain dan “proyek” akan berjalan lancar.Berdasarkan pengalaman yang sukses dari gotong royong lingkup kecil,  gotong royong bisa dipraktekkan berupa sinerji yang berskala nasional, regional ,bahkan internasional.

Kembali ke Budi Pekerti

Pada saat keprihatinan melanda kehidupan dinegeri tercinta ini dan itu sebab pokoknya adalah kemerosotan moral dan hukum yang sulit ditegakkan , kebenaran diplintir , rasa malu hilang entah kemana, mana yang  baik mana yang buruk dikaburkan, tata susila tak diperhitungkan.Lalu dimana pula kejujuran?Yang lagi ngetrend pada saat ini adalah janji-janji, terutama janjinya  para politikus.  Ini katanya zaman krisis multi dimensi, kalau orang dulu bilang  : Ini zaman edan !

Dalam keadaan sulit seperti apapun, tentu ada jalan keluarnya, tidak semua orang bersifat jelek, tidak semua pemimpin  lupa diri, ada masih anak bangsa yang berkwalitas, jujur, pandai, trampil, trengginas,berani hidup sederhana, dalam perilaku dan tindakannya didasari nurani dan berkah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang . Inilah anak bangsa, satria bangsa yang mumpuni dan akan mrantasi gawe, mengentaskan bangsa dan negara ini dari keterpurukan dan membawa kekehidupan yang lebih baik , sejahtera, aman, adil dan makmur.

Kalau kita merenung dengan hening, berbicara dengan nurani, tiada  sedikit keraguan bahwasanya Budi Pekerti yang sarat dengan ajaran luhur moral dan etika dan kepasrahan kepada Tuhan, merupakan resep mujarab supaya bangsa dan negara terlepas dari segala keruwetan yang dihadapi ( Ngudari ruwet rentenge bangsa lan negara ). 

Krisis yang dihadapi akan ditanggulangi dengan baik bila kita semua, terutama mereka yang menjadi pemimpin, priyayi, birokrat, dengan sadar dan mantap, melaksanakan semua tindakan dengan dasar budi pekerti.

Budi Pekerti yang merupakan kearifan lokal, pada dasarnya mengandung nilai-nilai universal.
Budi Pekerti akan membangkitkan kepribadian yang berkwalitas : tanggap ( peka), tatag ( tahan uji), dan tanggon ( dapat diandalkan).

Sabtu, 11 April 2015

C. ISRAR: "KESENIAN ISLAM DI SPANYOL"



 
Image: "Alcasar" (Foto: SP)
Alcasar ( istana ) di Sevilla
GURU SMAN 42 MENULIS - Sabtu, 11 April 2015 - Di dalam negara Islam, setiap warga negara mendapat kemerdekaan menganut agama dan kepercayaannya. Mereka mendapat perlindungan dari pemerintah dalam melakukan ‘ibadah dan segala macam upacara keagamaan. Begitu pula hak-hak mereka dijamin oleh pemerintah. Hal ini didasarkan kepada firman Tuhan :

“Tidak ada paksaan dalam agama, sebenarnya sudah nyata petunjuk dari “kesesatan.” (Al-Baqarah ayat 256 )

Oleh sebab itu sejarah perkembangan agama Islam tidak dimulai dengan pedang terhunus. Kemajuan pesat yang sudah dicapainya tidaklah dipaksakan dengan kekerasan senjata. Melainkan tersebar dengan perantaraan da’wah . da’wah atau seruan Islam ini adakalanya dengan jalan mengirim utusan kepada raja-raja yang belum beragama Islam untuk memperkenalkan agama itu, serta diiringi dengan seruan supaya raja-raja tersebut bersedia memeluk agama Islam.

Ketika Nabi Muhammad s.a.w. masih hidup, beliau pernah mengirim utusan kepada raja-raja  di sekitar jazirah Arab, di antaranya ialah kepada Heraclus Kaisar Rumawi Timur. Tetapi jika kehormatan agama Islam itu dilanggar dengan memberikan penghinaan atau utusan Islam yang dikirim itu dibuat cacad dan dinodai atau da’wah itu disambut dengan sifat permusuhan, maka barulah diadakan tindakan pembalasan.

Sesungguhnya setiap kaum Muslimin pada masa itu, telah menyediakan nyawanya sekalipun untuk menggalang kehormatan agama mereka. Keberanian tentara Islam lahir karena keyakinan bahwa, membela agama Tuhan itu adalah kewajiban mereka sendiri dan jika mereka gugur dalam perjuangan di jalan Tuhan itu, maka kematian mereka adalah kematian satria di medan perang yang dinamkan mati syahid, ialah kematian yang amat mulia di sisi Tuhan.

Sesudah seluruh tanah Spanyol jatuh ke bawah kekuasaan Islam, maka amat banyak penduduknya memeluk agama Islam. Di samping itu mereka yang tetap dalam agama Nasrani, kepercayaan serta hak milik mereka tetap dihormati dan dilindungi oleh pemerintah Islam. Mereka bebas melakukan ‘ibadah dan upacara keagaan mereka seperti biasa, bahkan pemerintah memberikan bantuannyadalam pendirian atau pembangunan gereja-gereja baru. Amat banyak gereja baru yang dibangun dalam masa kejayaan Islam itu.

Bagi mereka yang tetap beragama Nasrani, harus menta’ati peraturan umum dari negara di samping membayar pajak kepada pemerintah. Pajak yang dipikulkan itu adalah didasarkan atas kesanggupan mereka. Orang yang tidak mampu, membayar separuh dari jumlah pembayaran yang mampu, bahkan ada pula yang dibebaskan sama sekali.

Kewajiban membayar pajak itu diterima baik oleh orang Nasrani di Spanyol, karena pajak yang harus mereka bayar setiap tidak begitu berat. Semua pajak yang diterima itu dimasukkan ke dalam kas negara. Selain dari pemasukan pajak itu, pemerintah mempunyai pula Baitul Maal. Semua zakat yang ditarik dari kaum Muslimin masuk menjadi kekayaan Baitul Maal itu, begitu pula sedekah, wasiat dan seperlima dari ghanimah yaitu harta rampasan perang, dimasukkan ke dalam perbendaharaan Baitul Maal. Dari sumber inilah dikeluarkan biaya pemerintahan,pembangunan gedung-gedung, sekolah, rumah sakit, tempat perawatan sosial, mesjid dan lain-lain.

Ketika kerajaan Bani Umayah di Spanyol sudah kuat dan makmur dan dengan negara tetangga sudah diadakan perjanjian damai, maka anggaran biaya angkatan perang yang merupakan pengeluaran biaya yang terbesar selama ini mulai dibatasi.  Dan, kekayaan negara yang berlimpah-limpah itu dipergunakan sebesar-besarnya untuk pembangunan materieel dan moreel yang mungkin dicapai oleh peradaban manusia pada abad itu. Banyak kota yang dibangun dan sistim pengairan diatur sebaik-baiknya. Dari daerah pegunungan  dibuat saluran air, untuk mengairi daerah kering dan keperluan kota-kota. Selain itu yang tidak dapat dilupakan oleh sejarah ialah jasa Khalifah An-Nashir  dalam bidang ilmu pengetahuan. Ia telah membantu dan memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada para pujangga, ahli pikir, sarjana, seniman dan lain-lain. Buku-buku filsafat Yunani kuno dengan segala macam pengetahuandalam bahasa asing diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Setelah negeri Spanyol mulai aman dan tenteram, pemerintahan sudah tersusun dengan baik, maka orang Islam mulailah melangkah ke arah pembangunan baru dan sebagainya. Pada awalnya amat banyak arsitek yang didatangkan dari Rumawi, mereka diserahi tugas memimpin pembangunan istana, kantor pemerintahan, mesjid, sekolah dan bangunan-bangunan lainnya. Meskipun para arsiteknya didatangkan dari Rumawi, tetapi bangunan-bangunan baru yang didirikan di Andalusia bukanlah tiruan dari seni bangun Rumawi, bukan pula menuruti bentuk seni bangun Gothik yang telah mentradisi di Spanyol. Dalam mendirikan bangunan gedung-gedung, orang Islam mengambil  inti sari keindahan dari seni bangun Rumawi, seni bangun Gothik, seni bangun Byzantium dan sebagainya yang dipadu menjadi satu persenyawaan yang menciptakan bentuk-bentuk baru yang lebih indah dan khas. Akan tetapi memang bentuk seni Byzantium lebih mendominasi dalam keseluruhan bentuk bangunan. Dari perpaduan sari keindahan inilah satu cara penciptaan baru dalam seni bangun di Andalusia yang belum pernah dikenal pada abad-abad sebelumnya. Inilah yang dimaksud dengan seni bangun Islm Andalusia.

Adapun seni ukir dan seni hias sudah jauh lebih maju dari masa sebelumnya, baik mengenai  teknik ataupun dari segi konsep pemikirannya yang sudah lebih mendalam. Ornamen dan ukiran bukan saja disusun menurut kehalusan perasaan tetapi juga menurut perhitungan geometris yang teliti, sehingga ia merupakan suatu hasi seni yang mengharuan hati dan menakjubkan yang mampu menimbulkan perasaan empati bagi penikmatnya.

Faham Baru Dalam Kesenian Islam

Selaras dengan kemajuan cara berfikir ummat Islam pada masa itu, baik kemajuan cara berfikir yang khusus mengenai keagamaan atau dalam berbagai rupa pengetahuan lainnya, maka seni ukir dan seni hias , mendapat kemajuan yang lebih pesat, jauh lebih tinggi dari mutu seni ukir dan seni hias dalam masa sebelumnya. Kemajuan seni ukir dan seni hias, nyata kentara sekali dalam upaya melepaskan diri kungkungan motif yang amat sempit. Perluasan motif dari bentuk alam kosmos dan alam botanis saja, adalah suatu perubahan yang radikal dan berani dalam sejarah perkembangan seni rupa Islam.

Keberanian mereka untuk meretas faham tradisional dalam pengambilan mtif seni rupa, adalah berdasaarkan keyakinan bahwa jiwa tauhid tidak akan mungkin disesatkan oleh motif biologis yang distilir dalam penjelmaan seni ukir dan seni skulptur. Oleh sebab itu dalam masa kejayaan Islam di Andalusia, mulai ditemukan hasil-hasil seni skulptur dan seni lukis mengambil motif dari alam biologis atau makhluk bernyawa. Pada awalnya masih nampak keberanian yang masih maju-mundur.  Keinginan untuk melukis obyek makhluk hidup yang bernyawa itu sudah ada, tetapi hasil seni rupa tradisional masih mempengaruhi mereka.

Ukiran yang menghiasi sebuah jambangan bunga besar yang terdapat dalam salah satu ruang istana Alhambra, memperlihatkan suatu hasil kesenian yang tinggi, yang mencoba memperluas motif, tetapi masih ragu-ragu melukis makhluk bernyawa dalam bentuk naturalis. Lukisan dua ekor binatang yang berdiri berhadapan, dengan kepala seperti kepala burung unta dengan badan seperti giraf, motif binatang seperti ini hanya mungkin lahir dalam alam fantasi semata, dan mungkin juga mempunyai maksud yang dogmatis, tetapi kemungkinan besar bahwa itu adalah hasil pemecahan antara keinginan dan tradisi.

Jambangan bunga besar Alhambra itu memperlihatkan pula suatu hasil komposisi yang harmonis dari beragam motif yang distilir menghiasi bidang lengkung dan leher jambangan. Hiasannya terdiri dari motif daun-daunan, tulisan Arab serta bentuk geometris  pada lehernya merupakan satu persenyawaan yang indah dari berbagai macam ukiran.

Bentuk keseluruhan jambangan itu serta ukiran-ukiran yang menghiasinya, memberikan kesan yang nyata bahwa jambangan itu bukan dimaksudkan untuk tempat bunga dan bukan pula sebagai guci air, tetapi merupakan suatu hasil perwujudan rasa indah dari para seniman Islam pada masa itu.

Dalam sejarah seni rupa Islam pada abad sebelumnya, belum banyak ditemukan pengambilan motif biologis. Orang menjauhi  melukis sesuatu yang berbentuk makhluk bernyawa. Yang banyak ditemui dalam kesenian Islam ialah motif geometris, seperti bentuk segi tiga, bujur sangkar, segi lima, belah ketupat, motif tangga, meander, spiral, dan lain-lain yang disebut oleh orang Arab, “asykalu-handasiah” atau dari motif botanis, seperti daun-daunan, akar, kembang dan lain-lain yang distilir dengan amat indahnya.

Di dalam Al Quran sendiri tidak ada ayat-ayat yang melarang membuat gambar makhluk bernyawa. Tetapi yang dilarang adalah memuja arca dan sebagainya yang disebut al-ashnam dan at-thaghut, karena yang demikian itu adalah perbuatan musyrik, mempersekutukan Tuhan dengan makhluknya. Hanya dalam sebuah Hadits yang shahih dari Sa’id ibnu Hasan berkata :

“Ketika saya bersama-sama dengan Ibnu Abbas, tiba-tiba datang seorang lelaki, ia berkata: Hai Ibnu Abbas1 Aku hidup dari hasil kerajinan tanganku, ialah membuat arca seperti ini. Laklu Ibnu Abbas menjawab: Tidak akan aku katakan kepadamu, hanya apa yang telah kudengar dari Rasulullah s.a.w. Beliau bersabda: siapa yang melukis sebuah gambar, maka dia akan disiksa Tuhan sampai dia bisa memberinya bernyawa, tetapi selamanya ia tidak akan mungkin memberi gambar itu bernyawa.

Hadits pendek ini bermakna melarang membuat gambar-gambar makhluk bernyawa. Karena siapa yang menggambar seekor binatang umpanya, maka pada hari kemudian dia disuruh memberi gambar itu bernyawa. Dan Tuhan akan menyiksa orang itu karena pekerjaan yang tersebut tidak sanggup dilaksanakannya.

Itulah sebabnya maka di dalam perkembangan seni rupa Islam terjadi pembatasan motif di sekitar alam benda, seperti pengambilan motif dari alam cosmos, alam botanis serta bentuk geometris dan menjauhi motif-motif biologis seperti gambar manusia atau binatang. Akan tetapi beberapa abad kemudian setelah Nabi wafat, yaitu sesudah agama Islam mulai memasuki dan menguasai negeri-negeri yang telah tinggi peradaban dan kebudayaannya seperti negeri Persi, Rumawi, dan Gothik, maka terjadilah perubahan dan kemajuan dalam cara berfikir, terutama dalam menghadapi persoalan-persoalan baru yang belum ada ketika masa Rasulullah s.a.w. masih hidup. Umpamanya kemajuan dalam bidang ilmu hayat membutuhkan berbagai jenis gambar binatang. Hiphotesis yang dilakukan dalam laboratorium Perguruan Tinggi Kedokteran di Cordova menghendaki gambar-gambar anatomi manusia, serta banyak lagi hal-hal lain yang membutuhkan gambaran dari makhluk bernyawa.

Alangkah sulit diperoleh kemajuan dalam agama Islam jika menggambar makhluk bernyawa saja tidak siperbolehkan, sedang gambar-gambar seperti itu tidak bisa dipisahkan dari hubungan pengetahuan yang berguna bagi kehidupan manusia. Terkait dengan hal tersebut maka Rasulullah s.a.w. sebelum beliau wafat, bersabda :

“Antum  ‘alamuuridunyaakum.” ( Artinya : Kamulah yang lebih tahu tentang urusan keduniaanmu )

Sabda Nabi yang hanya empat patah kata itu, membuktikan bahwa agama Islam tidak mengajarkan suatu filsafat hidup yang sempit, tetapi ia telah membukakakan pintu yang selebar-lebarnya agar ummat Islam tidak takut berkecimpung dalam hidup, untuk mencapai kebahagiaan dengan menggunakan akal dan fikiran yang telah dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepadanya.

Larangan menggambar makhluk bernyawa, arca dan sebagainya, pada awal lahirnya agama Islam itu, dipandang dari sudut tauhid amat penting sekali dan sangat beralasan sekali. Karena pada waktu itu di kota Mekah masih bertaburan puing-puing bekas reruntuhan arca-arca yang telah disembah dipuja nenek moyang mereka berabad-abad lamanya. Masih terbayang dalam pelupuk mata penduduk Mekah bagaimana tokoh dari Lata, Uzza dan arca lainnya yang tidak kurang dari 360 buah banyaknya yang telah dibersihkan dari sekitar Ka’bah. Selain itu dalam tubuh kaum munafiqin masih mengalir darah kepercayaan nenek moyang yang telah turun-temurun.

Jika kepercayaan politheisme itu, tidak dibongkar sampai ke akar-akarnya; jika semua berhala tidak dihancurkan; jika pada waktu itu pembuatan patung diberi kesempatan berkembang, maka akan tumbuhlah tunas baru dari kepercayaan lama yang telah tumbang dan akan menggoyang saendi-sendi ketauhidan mereka yang masih baru memeluk agama Islam. Tetapi manakala hakikat tauhid telah mendarah daging dalam tubuh ummat Islam dan mereka tahu bahwa patung-patung tidak bisa berbuat apapun, maka tidak ada alasan bahwa kepercayaan yang telah berabad-abad dikubur itu, akan hidup kembali di tengah-tengah keyakinan ummat Islam yang telah berkemajuan.

Faham yang beranggapan bahwa membuat sesuatu yang berbentuk makhluk hidup  atau bernyawa itu tidak diharukan dalam agama Islam, mungkin sulit dipertahankan terutama dalam abad modern ini. Terkecuali jika dalam masyarakat Islam yang terpisah dari dunia ramai, seperti masyarakat Badui di tengah gurun pasir atau suku-suku yang mendiami rimba belantara benua Afrika dan sebagainya.

Demikian kemungkinan jalan fikiran ummat Islam pada zaman kerajaan Islam berkuasa di Spanyol, sehingga dalam sejarah kesenian Islam di Andalusia itu banyak ditemui arca-arca yang indah dan tinggi nilai mutu seninya, bahkan perusahaan kerajinan negara di Cordova membuat arca yang dibuat dari emas murni.

Selain itu seni lukis mulai berkembang dan mendapat tempat dalam pertumbuhan kebudayaan Islam. Lukisan berwarna yang amat besar dari Majelis Umara’, yaitu lukisan raja-raja Islam di Cordova yang menghiasi plafon sebuah ruangAlhambra, cukup memenuhi syarat-syarat visual dan geesteliyke elemen yang harus ada pada seni lukis. Latar belakang lukisan yang sengaja dikosongkan, lebih menonjolkan obyek yang dilukiskan, begitu pula masing-masing dilukiskan secara sederhana, bukan merupakan hasil idealisme yang dilebih-lebihkan, tetapi hanya menurut kenyataan yang bisa dipertanggungjawabkan baik mengenai proporsi, perspektif, warna dan gerak atau teknik lukisan keseluruhannya.

Referensi:
C. Israr, Sejarah Kesenian Islam 1
Bulan Bintang-Jakarta, 1978

Sabtu, 11 April 2015 – 22:46 WIN
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Bogor