Sabtu, 11 Juni 2016

SENI KALIGRAFI ISLAM By Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro

Blog Ki Slamet : Sang Guru SMAN 42 Menulis
Sabtu, 11 Juni 2016 - 13:13 WIB


Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro
Latar belakang

Seni kaligrafi Arab yang disebut juga seni khath merupakan salah satu karya seni rupa yang tidak kalah pentingnya dari jenis seni rupa Islam lainnya. Sebagai seni tulis dengan tuntutan keindahan, seni khath telah menempuh sejarahnya yang panjang dan mencapai puncak-puncak perkembangannya sesuai dengan peerkembangan dari aksara Arab dan peranan kebudayaan di tiap negara Islam.

Watak khas dari seni khath ialah bahwa kehadirannya merupakan gubahan kata-kata dari aksara dalam disain tertentu. Demikian dalam kaligrafi Arab, kata-kata disusun menjadi kalimat yang bersumber pada ayat-ayat dari Al-Qur’an atau Hadith. Berbagai pola susunan kalimat bermakna dipadukan dengan berbagai motif geometris dan motif tumbuh-tumbuhan menjadi ornamen tertentu. Perpaduan berbagai motif itu menghasilkan disain ornamental sebagai karya seni dekorasi Islam yang terdapat di hampir seluruh negara Islam di dunia. Disain ornamental ini sifatnya selalu terukur dan kaya dengan berbagai ubahan penampilan.

Ada ciri lain yang dapat ditunjuk pada karya seni khath yang timbul dari aksara Arab itu sendiri. Aksara Arab merupakan jenis tulisan yang elastis, tampil dengan bentuk keindahan yang sensitif. Seperti seperti dalam kaligrafi Cina, seorang kaligrafi dalam seni khath memiliki gaya sensitivitas yang tinggi di samping kepandaian teknik menulis. Maka nilai pribadi seniman tampak pada setiap jenis karya seni khath yang menjadi sumber pertumbuhan dari gaya dalam kaligrafi Arab.

Pada abad ke 14 tercatat beberapa gaya kaligrafiArab sesuai dengan aksara Arab yan tercipta di tiap daerah, seperti gaya Bagdad, Farisi, Andausi dan Istambul. Gaya daerah dalam kaligrafi Arab ini juga disebabkankarena adanya pemantapan bentuk dari aksara di tiap daerah. Jenis karya Kufah misalnya adalah hasil perkembangan aksara Arab (gbr.52). dari tulisan Suryani yang berbeda dengan jenis aksara Nasch yang berasal dari tulisan Natbhi (gbr.51). jenis-jenis aksara Arab ini berkembang terus sampai meliputi jumlah kurang lebih 20 macam aksara.

Ada pula gaya kaligrafi Arab yang ditimbulkan oleh bahan dan teknik penulisan. Tulisan kaligrafi pada bahan kulit binatang atau logam menghasilkan corak tulisan yang berbeda dengan tulisan pada bahan tanah liat atau batu marmer. Juga dengan tulisan dari lidi bambu, bulu angsa atau pena logam dapat dihasilkan corak dan gaya tulisan tertentu.

Kaligrafi Arab bergaya Kufah

Kaligrafi Arab bergaya Nasach
Dibandingkan dengan negara-negara Islam, seni khath di Indonesia tidak begitu tampil menonjol sebagai karya seni rupa. Hal ini disebabkan karena penerapan kaligrafi Arab sebagai hiasan sangat terbatas. Bangunan-bangunan tertua pada zaman permulaan kerajaan Islam tidak memberi peluang yang berarti bagi penerapan hiasan kaligrafi Arab. Masjid-masjid lama seperti di Banten, Cirebon, Demak dan Kudus menerapkan kaligrafi Arab hanya sebagai pelengkap motif hias yang bersumber pada tradisi seni hias Indonesia-Hindu.

Dibandingkan dengan negara-negara Islam lain, seni khath di Indonesia tidaka begitu tampil menonjol sebagai karya seni rupa. Hal ini disebabkan karena penerapan kaligrafi Arab sebagai hiasan sangat terbatas. Bangunan-bangunan tertua pada zaman permulaan kerajaan Islam tidak memberi peluang yang berarti bagi penerapan hiasan kaligrafi Arab. Masjid-masjid lama seperti di Banten, Cirebon, Demak dan Kudus menerapkan kaligrafi Arab hanya sebagai pelengkap motif hias yang bersumber pada tradisi seni hias Indonesia-Hindu.

Memang jika dibandingkan dengan hiasan masjid di negara-negara Islam lainnya pada waktu yang sama, peranan seni kaligrafi Arab pada arsitektur di Indoneesia tidak seberapa. Masjid lama Indonesia dengan konstruksi bangunan kayu memang tidak memberi peluang hadirnya hiasan kaligrafi Arab yang kaya. Jarang pula penerangan kaligrafi Arab pada benda upacara dan prabt kraton. Di sana-sini memang ada tanda-tanda hiasan kaligrafi Arab seperti misalnya pada hiasan mimbar masjid dan pada batu nisan makam.

Kurangnya peranan kaligrafi Arab dalam seni dekoratif Islam Di Indonesia disebabkan juga karena ketidakmandirian kaligrafi sebagai cabang seni rupa. Kebiasaan menulis indah yang dapat memungkinkan perkembangan seni kaligrafi, kebiasaan ini tidak terdapat dalam kebudayaan Islam-purba di Indonesia. Bangsa yang telah mengenal tulisan sejak sebelum zaman Islam tidak cukup mendapat rangsangan untuk menekuni kaligrafi Arab. Tulisan pada bilah kayu, tembaga dan pada daun lontar dari masa pra Islam tidak berkembang menjadi tulisan kaligrafi yang indah.

Kehadiran kaligrafi Arab yang kadang-kadang disatukan dengan aksara Jawa dalam bentuk candra sangkala hanyalah berfungsi sebagai tanda peringatan berdirinya masjid seperti yang terdapat pada Masjid Mantingan, Masjid Sumenep, dan Masjid Sendangduwur.

Penerapan Kaligrafi Arab

Dengan uraian di atas jelas bahwa tugas seni kaligrafi Arab pada masa Islam-Purba ialah tugas dekoratif. Dalam tugas dekoratif ini kaligrafi Arab dipadukan dengan motif-motif hias tradisional. Ini berarti bahwa kehadiran motif kaligrafi Arab tidak terlepas dari pesan-pesan perlambangan seperti yang sering dituntut dalam seni hias tradisional pra Islam. Jadi, hiasan kaligrafi Arab dalam kesenian Islam-purba di Indonesia tidak berdiri sendiri, baik dilihat dari fungsi perlambangan maupun fungsi estetikanya.

Fungsi perlambangan

Kaligrafi Jawa yang tampak pada candra sangkala adalah contoh fungsi perlambangan dari sebuah kaligrafi. Dalam kebudayaan Jawa-Hindu terdapat kebiasaan untuk mengungkapkan perasaan dan pikiran dalam bentuk perlambangan . pernyataan perlambangan ini dapat ditampilkan dalam berbagai bentuk seperti kata-kata dan gambar hiasan yang mengandung petuah, ajaran dan petunjuk.

Telah disinggung tentang candra sangkala yang tampil sebagai gambar perlambanganyang berarti kiasan dalam bentuk rangkaian kata-kata untuk menyatakan tahun. Perhitungan tahun berdasarkan peredaran bulan berasal dari Arab yang diterapkan sejak Mataram yang mendasari perhitungan tahun dalam candra sangkala yang berbeda 78 tahun dengan tahun Masehi. Kebudayaan Jawa-Hindu yang melahirkan candra sangkala berwujud kata-kata dan kalimat dalam perkembangannya mencapai hiasan bergambar yang disebut sangkala memet.

Kain panjang berbentuk panji dan kraton berisi unsur-unsur perlambangan yang tersusun baik dalam kata-kata dan kalimat dari petuah ajaran agama Islam maupun gambar-gambar bentuk stilasi pedang, singa dan bentuk ilmu ukur. Gambaran kaligrafi semacam itu sering diketemukan sebagai perbendaharaan kraton yang mempunyai nilai perlambangan. Alam pikiran kosmis magis yang berpengaruh terus sampai pada zaman Islam, dalam manifestasinya antara lain dalam bentuk gambar tulisan batik kaligrafi. Garapan aksara secara artistikk memang tidak ditampilkan sebagai unsur keindahan. Sebagian besar dari karya kaligrafi Arab di In donesia memang lebih mementingkan nilai kegunaannya sebagai kaligrafi terapan. Dengan kata lain seni khath di Indoneia tidak ditujukan untuk mengembangkan nilai keindahan tulisan Arab itu sendiri sebagai karya seni tulis. Itulah sebabnya mengapa kaligrafi Arab di Indonesia lebih banyak tampil sebagai motif hias dan tanda kiasan atau perlambangan.

Lukisan kaca dan pahatan kaligrafi Arab yang disebut Macan Ali permasalahannya juga sama dengan lukisan Singa pada batik kaligrafi dari panji kraton tersebut. Di sini sosok binatang macan atau singa sebagai perwujudan lambang lebih diutamakan. Aksara Arab karenanya hanya berfungsi untuk mengisi bidang sosok binatang. Terasa bahwa penggarapan aksara Arab harus menyesuaikan dengan bidang lukisan yang tersedia.
 
Lukisan kaca "Macan Ali" dari kraton lama Cirebon
enampilan kaligrafi seperti tersebut di atas juga tampak pada kaligrafi Arab berbentuk wayang seperti tokoh panakawan, ksatria, raksasa dan dewa atau tanda perlambangan kerajaan. Maka aksara Arab dan kata-kata yang dipakai dalam lukisan kaligrafi ini harus ikut mendukung nilai perlambangannya. Pada karya kaligrafi Arab tidak tampak upaya untuk membuat lukisan indah. Hal ini bisa dimengerti karena para pembuat kaligrafi lebih terikat pada bentuk perlambangan yang sudah dibakukan daripada mencipta lukisan baru dengan memanfaatkan aksara Arab yang indah. Jelas bahwa kaligrafi Arab berfungsi sebagai media pembentuk perlambangan yang telah tersedia dan dirumuskan arti perlambangannya.

Fungsi dekoratif

Adanya bermacam-macam corak dan gaya aksara Arab tidak hanya menjelaskan adanya kemampuan teknis menulis yang berbeda, tetapi juga menampilkan keindahan yang sensitif dari aksara Arab itu sendiri. Hakikat keindahan dari aksara Arab itu dirasakan oleh para seniman kaligrafi Arab sebagai kemungkinan untuk menggarab sebagai media hiasan. Di negara-nedara Islam seperti Mesir,Parsi dan Turki dalam sejarah perkembangan seni rupanya telah dihasilkan benda-benda kerajinan dari berbagai bahan yang memperlihatkan hiasan kaligrafi Arab yang sangat menarik.
 
Kaligrafi Arab pada hiasan belanga dari Parsi
Sesuai dengan bahan yang dipakai maka dalam mencipta hiasan tersebut para seniman dituntut untuk mengenal bermacam-macam teknik berbeda dengan membuat hiasan sama pada jambangan atau lampu dari porselin. Di sini terasa bahwa kaligrafi Arab di negara-negara tersebut turut menaikkan mutu seni kerajinannya. Selain itu keberhasilan menghias ialah karena mampu memanipulasikan keindahan aksara Arab. Di samping benda-benda kerajinan tersebut, kaligrafi Arab juga diterapkan pada hiasan alat-alat perang seperti pedang, perisai, tombak, topi baja dan sebagainya. Di Indonesia hiasan semacam inijuga tampak pada keris atau tombak yang telah dibahas pada seni kerajinan logam.

Kaligrafi Arab pada hiasan bidang bilah keris dari Jawa
Keindahan kaligrafi Arab lebih banyak berbicara pada hiasan arsitektur. Kemegahan masjid-masjid besar di negara-negara Islam tidak hanya terletak pada konsep disain arsitekturnya, tetapi juga pada nilai dekoratifnya.

Bidang-bidang rata dan lengkung, vertikal dan horisontal dari tiap bagian bangunan masjid dengan ukuran yang berbeda-beda, tersedia untuk penerapan hiasan kaligrafi Arab. Ayat-ayat suci dari Al-Qur’an dipilih pada bidang-bidang dari bangunan masjid dan makam, terutama makam-makan tertua yang ditemukan di beberapa tempat baik yang berasal dari Gujarat maupun yang asli dari Indonesia. Untuk membaca kalimat-kalimat kaligrafi yang tergurat pada makam Gujarat dibutuhkan ketelitian karena susunan kalimat biasanya disesuaikan dengan bentuk bidang, semacam susunan secara sinopsis. Di samping ayat-ayat suci Al-Qur’an atau pujian kepada Allah dan Nabi Muhammada saw. Atau bagian dari kalimat Syahadat, kaligrafi Arab muncul dalam bentuk syair indah seperti yang terpahat pada makam Sultan Malik as Saleh atau pada makam-makam di Aceh Utara yang membuat syair bahasa Melayu kuno.

Pada hiasan bidang batu nisan dari makam Maulana Malik Ibrahim tampak tradisi seni khath yang berasal dari Gujarat yang lebih menekankan kepada keindahan aksara Arab dengan gaya paduan dari Nasadi dan Kufah. Pembagian bidang hiasan sesuai dengan bidang dari batu marmer, memberikan tempat untuk kalimat-kalimat ayat suci dengan memperhitungkan kesatuan komposisi yang sangat teratur dan apik
 
Kaligrafi Arab pada hiasan bidang batu nisan makam lama Banda Aceh

Tidak ada batasan yang jelas tentang penerapan kaligrafi Arab sebagai hiasan pada makam-makam kuno di Indonesia. Di antara makam-makam kuno di Troloyo dekat Mojokerto ada yang memperlihatka  hiasan kaligrafi Jawa-kuno yang diperkirakan sudah ddirikan pada zaman Hindu. Ada juga hiasan kaligrafi Arab dengan gaya Kufah yang terdapat pada makam kuno dari Leran Kabupaten Gresik. Teknik pahatan dari makam-makam ini jika dibsndingkan dengan pahatan kali grafi pada makam gaya Gujarat kurang halus dan kurang teliti pengerjaannya. Kehalusan teknik memahat kaligrafi juga tampak pada hiasan kaligrafi Arab pada nisan makam dari Banda Aceh. Pada pahatan ini tradisi seni pahat Indonesia-Hindu tidak kentara jika dibanding dengan pahatan kaligrafi pada nisan makam di Troloyo

Kaligrafi Jawa Kuno pada hiasan batu nisan makam lama Troloyo Mojokerto
Dalam hubungannya dengan bangunan masjid kuno di Indonesia, kaligrafi Arab lebih berfungsi sebagai tanda didirikannya dalam bentuk candra sangjala, baik yang menggunakan aksara Jawa-Kuno maupun aksara Arab. Kaligrafi Arab yang diterbkan pada bangunan masjid sebagai media hiasan hampir tidak dikenal pada zaman Islam-purba. Tidak seperti pada masjid-masjid di luar Indonesia yang hampir semua perbidangan dalam ruang interior memperlihatkan hiasan kaligrafi yang kaya dengan berbagai teknik menghias seperti mozaik, lukisan, ukiran dan tempelan. Ciri khas ornamentik Islam hasil dan penggabungan motif geometris dan kaligrafi Arab juga tidak tampak pada masjid-masjid tertua di Indonesia. Tradisi menghias masjid dengan teknik membentuk relief yang bersumber pada seni tradisi seni Jawa-Hindu berpengaruh pula pada penerapan kaligrafi Arab yang disesuaikan dengan bentuk keruwal dari motif tumbuh-tumbuhan. Hiasan Kaligrafi ini pun hadir pada tempat-tempat tertentu sekedar untuk mengisi kekosongan bidang.

Dengan keterangan singkat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kaligrafi Arab sebagai ragam hias Islam kurang memegang peranan dalam menghias masjid-masjid kuno di Indonesia. Peranan itu baru terasa setelah ada perkembangan baru dari bangunan masjid agak mutakhir, yaitu ketika pengaruh dari arsitektur Islam dari luar makin terasa di Indonesia.

Sumber:
Wiyoso Yudoseputro
Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia
Angkasa – Bandung 2000

Bumi Pangarakan, Bogor
sabtu, 11 Juni 2016 – 12:38 WIB

Jumat, 06 Mei 2016

KIRIMAN DRS. I GUSTI NGURAH DWAJA : "BUDI PEKERTI"

Blog Ki Slamet 42 : Guru SMAN 42 Jakarta Menulis
Sabtu, 07 Mei 2016 - 01:05 WIB

Image "Drs. I Gusti Ngurah Dwaja" ( Foto: SP )
DRS. I GUSTI NGURAH DWAJA ( Penulis Buku )
Budi Pekerti

Secara umum Budi Pekerti berarti moral dan kelakuan yang baik dalam menjalani kehidupanini.

Ini adalah tuntunan moral yang paling penting untuk orang Jawa tradisional. Budi Pekerti adalah induk dari segala etika ,tatakrama, tata susila, perilaku baik dalam pergaulan , pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Pertama-tama budi pekerti ditanamkan oleh orang tua dan keluarga dirumah, kemudian disekolah dan tentu saja oleh masyarakat secara langsung maupun tidak langsung.

Pada saat ini dimana  sendi-sendi kehidupan banyak yang goyah karena terjadinya erosi moral,budi pekerti masih relevan dan perlu direvitalisasi.
Budi Pekerti yang mempunyai arti yang sangat jelas dan sederhana, yaitu : Perbuatan( Pekerti) yang dilandasi atau dilahirkan oleh Pikiran yang jernih dan baik ( Budi).

Dengan definisi yang teramat gamblang dan sederhana dan tidak muluk-muluk,  kita semua dalam menjalani kehidupan ini semestinya dengan mudah dan arif dapat menerima tuntunan budi pekerti.

Budi pekerti untuk melakukan hal-hal yang patut, baik dan benar.Kalau kita berbudi pekerti, maka jalan kehidupan kita paling tidak tentu selamat, sehingga kita bisa berkiprah menuju ke kesuksesan hidup, kerukunan antar sesama dan berada dalam koridor perilaku yang baik.

Sebaliknya, kalau kita melanggar prinsip-prinsip budi pekerti, maka kita akan mengalami hal-hal yang tidak nyaman, dari yang sifatnya ringan, seperti tidak disenangi/ dihormati orang lain, sampai yang berat seperti: melakukan pelanggaran hukum sehingga bisa dipidana.

Penanaman Budi Pekerti

Esensi Budi Pekerti, secara tradisional mulai ditanamkan sejak masa kanak-kanak, baik dirumah maupun disekolah, kemudian berlanjut dalam kehidupan dimasyarakat.

Dirumah dan keluarga
 
Sejak masa kecil dalam bimbingan orang tua, mulai ditanamkan pengertian baik dan benar seperti etika, tradisi lewat dongeng, dolanan/permainan anak-anak yang merupakan cerminan hidup bekerjasama dan berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan.

Berperilaku yang baik dalam keluarga amat penting bagi pertumbuhan sikap anak selanjutnya. Dari kecil sudah terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun sewu ( permisi), nderek langkung (perkenankan lewat sini).

Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama, apakah itu bahasa halus (kromo) atau ngoko (bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa( penggunaan bahasa menurut tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain.

Bahasa kromo dan ngoko
 
Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa,yaitu : Kromo, bahasa halus dan ngoko, bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu dihormat, sedangkan ngoko biasanya dipakai antar teman.
Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh :
Bahasa Indonesia : Saya mau pergi.
Kromo                     : Kulo bade kesah.
Ngoko                     : Aku arep lunga.

Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko, sedang anaknya menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai kata-kata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari secara teori.


Ora ilok, suatu kearifan
 
Orang tua zaman dulu sering bilang : ora ilok,artinya tidak baik, untuk melarang anaknya.Jadi anak tidak secara langsung dilarang, apalagi dimarahi.Ungkapan tersebut dimaksudkan , agar si anak tidak melakukan perbuatan yang tidak sopan atau mengganggu keharmonisan alam. Misalnya ungkapan : Ora ilok ngglungguhi bantal, mengko wudhunen (Tidak baik menduduki bantal , nanti bisulan). Maksudnya supaya tidak menduduki bantal, karena bantal itu alas kepala. Meludah sembarang tempat atau membuang sampah tidak pada tempatnya, juga dibilang ora ilok, tidak baik. Tempo dulu, orang tua enggan menjelaskan, tetapi sebenarnya itu merupakan kearifan. Lebih baik melarang dengan arif, dari pada dengan cara keras.

Tembang yang bermakna

Pada dasarnya, pendidikan informal dirumah, dikalangan keluarga adalah ditujukan kepada harapan terbaik bagi anak asuh. Coba perhatikan ayah atau ibu yang meninabobokkan anak dengan kasih sayang melantunkan tembang untuk menidurkan anak , isinya penuh permohonan kepada Sang Pencipta, seperti tembang : Tak lelo-lelo ledung, mbesuk gede pinter sekolahe, dadi mister, dokter, insinyur. (Sayang, nanti sudah besar pintar sekolahnya, jadi sarjana hukum, dokter atau insinyur).

Atau doa dan  permohonan yang lain: Mbesuk gede, luhur bebudhene,jumuring ing Gusti, angrungkubi nagari (Bila sudah dewasa terpuji budi pekertinya, mengagungkan Tuhan dan berbakti kepada negara).

Pendidikan tradisional zaman dulu mengandung kesabaran, nerimo ing pandhum, pasrah, ayem tentrem, tansah eling marang Pangeran ( selalu dengan sabar menerima dan mensyukuri pemberian Tuhan, pasrah. Pengertian pasrah adalah tekun berusaha dan menyerahkan keputusan kepada Tuhan.Hati tenang tentram, selalu ingat kepada Tuhan).Perlu digaris bawahi bahwa kepercayaan orang Jawa tradisional kepada Tuhan itu sudah mendarah daging sejak masa kuno, sehingga anak-anak Jawa sejak kecil sudah sering mendengar kata-kata orang tua : Kabeh sing neng alam donya iku ana margo kersaning Gusti. ( Semua yang ada didunia ini ada karena kehendak Tuhan).Sehingga bagi orang Jawa tradisional, apapun yang terjadi, akan selalu pasrah dan mengagungkan Gusti/Tuhan. Itu sudah menjadi watak bawaan yang mendarah daging.
 
Biasanya ketika anak mulai berumur lima tahunan, secara naluri mulai diterapkan ajaran unggah-ungguh, sopan santun, etika, menghormati orang tua dan orang lain. Inkulturisasi, penanaman etika ini sangat penting karena menjadi dasar supaya si anak hingga dewasa dapat membawa diri dan diterima dalam pergaulan dimasyarakat, mampu bersosialisasi dan punya budaya malu. Punya sikap mendahulukan kepentingan orang lain, peka dan peduli kepada sekeliling dan lingkungan. Punya kebiasaan hidup rukun dan damai, penuh kasih sayang dan hormat dilingkungan keluarga dan masyarakat. Penanaman sikap sejak dini ini penting karena akan merasuk dalam rasa, sehingga kepekaannya tidak mudah hilang.

Peduli Lingkungan
 
Pendidikan yang mengarah kepada peduli dan kasih terhadap lingkungan dan alam, juga sudah dimulai sejak usia belia.Anak-anak diberi pengertian untuk tidak bersikap sewenang-wenang kepada binatang dan tanaman dan juga menjaga kebersihan alam, tidak merusak alam. Anak kecil yang dirumahnya punya binatang peliharaan seperti anjing, kucing, burung, selalu diberitahu oleh orang tuanya untuk merawat nya dengan baik, memberi makan yang teratur, dijaga kebersihannya, kandangnya juga bersih  dan tidak boleh diperlakukan dengan sewenang-wenang dan justru harus dilindungi dan dikasihi.
Tanaman dan pepohonan juga harus dirawat dengan baik, disiram setiap sore, kadang-kadang diberi pupuk, dijaga supaya tumbuh subur dan sehat dan cantik penampilannya ,sehingga enak dipandang.

Tanaman yang dirawat akan membalas kebaikan kita, daunnya, , bunganya, buahnya, kayunya, akarnya, bisa memberi faedah yang berguna.
Bumi tempat kita berpijak, juga harus dilindungi, diurus yang baik, jangan asal saja menggali-gali tanah ,kalau memang tidak ada tujuan yang bermanfaat.Sumber air juga harus dijaga, tidak boleh dikotori.

Prinsipnya, kita harus dengan sadar dan sebaik-baiknya merawat, menggunakan dan mensyukuri semua pemberian alam dan Sang Pencipta.

Pendidikan formal
 
Selain pendidikan non-formal yang berkembang dan berpengaruh positif, pendidikan formal tentu saja mempunyai peran sangat penting.Anak dididik supaya cerdas dan punya budi pekerti.

Sejak ditaman bermain/Play group, TK,SD, anak diperkenankan  dan dibiasakan bersosialisasi, ditanamkan etika, sopan santun, kebersihan, rasa kebersamaan, rasa kebersamaan dialam sebagai satu kesatuan kosmos, ditanamkan rasa solidaritas dan kasih sayang demi keselarasan, keseimbangan dan perdamaian.

Tentu juga diajarkan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam tradisi dan adat istiadat.
Dimasa penjajahan dulu, sekolah-sekolah pribumi seperti Taman Siswa, menanamkan pendidikan yang penuh dengan semangat juang dan nasionalisme, persatuan dan kesatuan dalam melawan penjajah.

Etika Pergaulan

Sebagai bangsa yang berbudaya, sebaiknya semua pihak menampilkan sikap yang santun dalam pergaulan, membuat orang lain senang, dihargai. Orang itu senang bila dihargai, disapa dengan kata-kata yang baik, termasuk wong cilik, orang ekonomi lemah.Wong cilik akan santun kepada orang yang menghargai mereka. Orang santun, meski derajatnya tinggi, tidak sombong, ini orang yang berbudaya.Orang yang berperilaku baik, berbahasa baik, berbudi baik, selain dihargai orang lain, secara pribadi juga untung, yaitu akan mengalami peningkatan taraf kejiwaannya, mengalami kemajuan batiniah.

Pelajaran dari cerita wayang
 
Cerita yang bersumber dari pewayangan juga penting untuk pendidikan budi pekerti secara umum.
Bagi orang Jawa tradisional, apa yang dikisahkan dalam wayang adalah merupakan cermin dari kehidupan, oleh karena itu wayang sangat populer di Jawa sampai saat ini.

Pelajaran yang bisa ditarik dari pewayangan adalah , antara lain :

1.            Didunia ini ada baik dan jahat, pada akhirnya yang baik yang menang, tetapi setiap saat yang jahat akan berusaha untuk menggoda lagi.
2.          Ikutilah contoh dari sikap hidup Pandawa, lima satria putra Pandu yaitu Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan satria-satria yang lain yang mempunyai watak luhur, jujur, sopan. Mereka berjuang demi kebenaran, untuk kesejahteraaan rakyat dan negara. Mereka dengan tekun dan ikhlas mendalami spiritualitas, kebatinan. Mereka menggunakan kemampuan, kesaktiannya untuk tujuan yang mulia. Satria itu orang yang berbudi pekerti, berwatak luhur dan bertanggung jawab.

Jangan mencontoh sikap para Korawa,seratus orang putra Destarata,yaitu Duryudana dan adik-adiknya beserta kroni-kroninya. Mereka itu tidak jujur, serakah mencari kekayaan materi dan kekuasaan, sikapnya kasar, tidak sopan, culas.Mereka digambarkan sebagai raksasa. Raksasa dalam bahasa Jawa adalah Buto artinya buta, tidak bisa membedakan yang baik dan yang jahat, yang salah dan yang benar.
3.               Dari epoch Ramayana, Prabu Rama, Anoman dan anah buahnya punya watak satria luhur, sebaliknya Rahwana, Sarpakenaka adalah raksasa-raksasa yang rakus dan keji, tanpa rasa kemanusiaan.
4.           Penghuni Alam Raya ini tidak hanya manusia, hewan dan mahluk yang kasat mata, tetapi juga ada mahluk-mahluk lain yang biasanya disebut mahluk halus, ada yang baik dan ada yang jahat wataknya.
5.           Ada alam Kadewatan yang dihuni dewa dewi yaitu di Kahyangan. Penguasa Jagat Raya adalah Sang Hyang Wenang yang dalam pelaksanaannya memberi wewenang kepada Batara Guru.
6.           Dalam hidupnya manusia selalu mensyukuri berkah dan anugerah Tuhan, selalu berdoa dan mengagungkan Tuhan, Sang Pencipta.Garis kehidupan manusia sesuai ketentuan yang diketahui dan diizinkan Tuhan.Titah bisa berkomunikasi dengan Sang Penguasa Jagat Raya, Tuhan melalui perantaraan dewa dewi ataupun secara langsung. Ini tentu merupakan anugerah Gusti kepada titahnya yang terpilih, tidak sembarang orang.Pemberitahuan Ilahi juga bisa diterima melalui wahyu secara langsung ataupun lewat mimpi.Dalam cerita wayang, seseorang bisa dikontak oleh utusan Kahyangan setelah bertapa ditempat yang sepi untuk beberapa saat(.Dewa-dewi dalam pengertian lain bisa disebut  Malaikat atau Angels).  
7.           Manusia yang sudah diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dibumi ini oleh Sang Pencipta, tidak layak kalau menyia-nyiakan hidupnya. Dia harus menjadi manusia yang berbudi pekerti, melaksanakan darma anak manusia untuk memayu hayuning bawana ( Melestarikan bumi dan mempercantik kehidupan dibumi.)               
                                                                            .
Legenda –legenda tanah Jawa menggambarkan :

1.              1.            Adanya raja-raja dan penguasa yang adil dan tidak adil;ada yang baik, bijak, tetapi ada juga yang bengis dan kejam.
2.           Kejujuran dan kelicikan.
3.           Pahlawan dan pengkhianat
4.           Negeri aman, adil makmur dan negeri yang serba semrawut dan kacau.
5.           Kekuasaan untuk rakyat dan penyalahgunaan kekuasaan. 
6.           Masyarakat adil makmur tata tentram kerta raharja adalah suasana kehidupan masyarakat yang didambakan orang Jawa.

Tatakrama dan Tata Susila

Tatakrama dan Tata Susila juga tak terlepas dari budi pekerti. Berlaku sopan, bertatakrama yang meliputi sikap badan, cara duduk, berbicara dll. Misalnya dengan orang tua berbahasa halus/kromo, dengan teman berbahasa ngoko. Bahasa Jawa memang unik, dengan mudah bisa menunjukkan sifat tatakrama seseorang.

Menghormati orang tua, guru, pinisepuh adalah wajib, tetapi tidak berarti yang muda tidak dihormati. Hormat kepada orang lain itu satu keharusan.
Itu kesemuanya termasuk dalam Tata Susila- etika moral, yang juga meliputi :
  
1.           Jujur, tidak menipu, welas asih kepada sesama. Berkelakuan baik tidak melakukan Mo Limo, yaitu : Main/berjudi; madon/ main perempuan atau selingkuh;mabuk karena minuman keras;madat menggunakan narkoba dan maling .Tentu saja tindakan jahat yang lain seperti membunuh, menista, mengakali,memeras, menyuap, melanggar hukum dan berbuat kejam ,harus tidak dilakukan.

2.           Berperilaku baik dengan menghindari perbuatan salah, supaya nama baik tetap terjaga dan supaya tidak kena malu.Terkena malu bagi orang Jawa tradisional adalah kehilangan kehormatan.Ada pepatah Jawa menyatakan : Kehilangan  semua harta milik itu tidak kehilangan apapun; kehilangan nyawa artinya kehilangan separoh hidup kita; tetapi kalau kehilangan kehormatan artinya kehilangan semuanya.

3.           Memelihara kerukunan, bebas dari konflik diantara keluarga, tetangga, kampung, desa, selanjutnya ditingkat negara dan dunia, dimana hubungan harmonis antar manusia teramat penting. Kerusakan dan kekacauan yang timbul didunia ini, yang paling besar adalah dikarenakan oleh sikap manusia’Ingatlah pepatah : Rukun agawe santoso artinya : Rukun membuat kita sehat kuat.

4.           Bersikap sabar, nrimo artinya menerima dengan ikhlas dan sadar jalan kehidupan kita dan tidak perlu iri kepada sukses orang lain Ingin hidup sukses harus berusaha dengan keras dan rajin dan mohon restu Tuhan, hasilnya terserah Tuhan.

5.           Tidak bersikap egois yang hanya mementingkan diri sendiri. Ada petuah : Sepi ing pamrih, rame ing gawe.artinya bertindak tanpa pamrih dan selalu siap bekerja demi kepentingan  masyarakat dan kesejahteraan umat.Sikap yang demikian ,mudah menimbulkan tindakan ber-gotong royong, baik dalam lingkungan kecil maupun besar.

6.           Gotong Royong adalah kerjasama saling membantu dan hasilnya sama-sama dinikmati. Ini bisa berlaku diskop kecil seperti antar tetangga kampung yang merupakan kebiasaan yang sudah berjalan sejak masa kuno. Yang digotong royongkan antara lain : sama-sama membersihkan jalan desa, memperbaiki pra sarana seperti jalan desa, saluran air, balai desa dsb.Ada juga yang bergotong royong ramai-ramai membangun rumah seorang warga dll. Jadi pada intinya gotong royong adalah kerjasama antar beberapa pihak yang menghasilkan nilai lebih dipelbagai bidang yang dikerjakan bersama tersebut. Dasar gotong royong adalah sukarela dan untuk kepentingan bersama yang meliputi bidang-bidang perawatan, pembangunan, produksi dll.Tiap peserta akan menangani bidang pekerjaan yang merupakan kemahirannya dan itu akan bersinerji dengan ketrampilan peserta lain dan “proyek” akan berjalan lancar.Berdasarkan pengalaman yang sukses dari gotong royong lingkup kecil,  gotong royong bisa dipraktekkan berupa sinerji yang berskala nasional, regional ,bahkan internasional.

Kembali ke Budi Pekerti

Pada saat keprihatinan melanda kehidupan dinegeri tercinta ini dan itu sebab pokoknya adalah kemerosotan moral dan hukum yang sulit ditegakkan , kebenaran diplintir , rasa malu hilang entah kemana, mana yang  baik mana yang buruk dikaburkan, tata susila tak diperhitungkan.Lalu dimana pula kejujuran?Yang lagi ngetrend pada saat ini adalah janji-janji, terutama janjinya  para politikus.  Ini katanya zaman krisis multi dimensi, kalau orang dulu bilang  : Ini zaman edan !

Dalam keadaan sulit seperti apapun, tentu ada jalan keluarnya, tidak semua orang bersifat jelek, tidak semua pemimpin  lupa diri, ada masih anak bangsa yang berkwalitas, jujur, pandai, trampil, trengginas,berani hidup sederhana, dalam perilaku dan tindakannya didasari nurani dan berkah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang . Inilah anak bangsa, satria bangsa yang mumpuni dan akan mrantasi gawe, mengentaskan bangsa dan negara ini dari keterpurukan dan membawa kekehidupan yang lebih baik , sejahtera, aman, adil dan makmur.

Kalau kita merenung dengan hening, berbicara dengan nurani, tiada  sedikit keraguan bahwasanya Budi Pekerti yang sarat dengan ajaran luhur moral dan etika dan kepasrahan kepada Tuhan, merupakan resep mujarab supaya bangsa dan negara terlepas dari segala keruwetan yang dihadapi ( Ngudari ruwet rentenge bangsa lan negara ). 

Krisis yang dihadapi akan ditanggulangi dengan baik bila kita semua, terutama mereka yang menjadi pemimpin, priyayi, birokrat, dengan sadar dan mantap, melaksanakan semua tindakan dengan dasar budi pekerti.

Budi Pekerti yang merupakan kearifan lokal, pada dasarnya mengandung nilai-nilai universal.
Budi Pekerti akan membangkitkan kepribadian yang berkwalitas : tanggap ( peka), tatag ( tahan uji), dan tanggon ( dapat diandalkan).