Rabu, 30 Desember 2015

"KONSEP BELAJAR SAYYID QUTHB"

Guru SMAN 42 Jakarta Menulis
Kamis, 31 Desember 2015 - 09:39 WIB 
"SAYYID QUTHB"
       Ki Slamet 42 Blog - Dalam buku tulisan Sayyid Quthb Ma’âlim fî ath-Tharîq, beliau menjelaskan tentang prilaku insan pembelajar generasi sahabat Nabi, yang memberi gambaran kepada kita tentang apa yang menjadi keistimewaan generasi pertama Islam itu sehingga mampu melakukan lompatan besar memimpin garda peradaban dunia?  Menurutnya, “Kehebatan generasi sahabat bukan semata-mata karena di sana ada Rasulullah, sebab jika ini jawabannya berart iIslamtidak rahmatan lil ’alamîn.  Kehebatan mereka terletak pada semangat mereka untuk belajar lalu secara makimalberupaya mengamalkannya.”

Ternyata, proses belajar yang harus kita lakukan tidak berhenti terbatas mempelajari sesuatu, tetapi sekaligus belajar untukmengaplikasikan.  Dari pandangan Sayyid Quthb di atas, kita menemukan jawaban atas jarak yang membentang antara pengetahuan yang kita pelajari dengan pembentukan pola pikir dan pola sikap keseharian kita.

Generasi sahabat mengetengahkan sebuah pandangan tentang belajar untuk memahami (learning how to think).  Rata-rata mereka memiliki semangat prima dalam hal ini.  Mereka sangat haus dengan pengetahuan.  Kemauan (irâdah) terhadap ilmu melampaui keinginan mereka kepada yang lai.  Tapi, generasi itu juga menjelaskan tentang belajar untuk mengamalka (learning how to do).  Satu unit pengetahuan yang mereka peroleh langsung mereka aplikasikan, begitu yang kita tangkap dari penjelasan Sayyid Quthb.  Mungkin inilah semangat yang perlu kita miliki; setelah mendapatkan satu unit pengetahuan, maka harus ada langkah konkret untuk mengaplikasikannya.  Pada apapun yang kita pelajari, langkah ini akan menguatkan pengetahuan yang diperoleh.

Analisis Sayyid Quthb terhadap generasi sahabat juga menjelaskan kepada kita tentang kesadaran diri para sahabat untuk menjadi pribadi paripurna.  Rentetannya sebagai berikut.  Mereka memiliki kesadaran diri untuk menjadi pribadi paripurna (takwa).  Syaratnya mereka perlu menginvestasikan amal-amal yang berkualitas.  Untuk tujuan semua itu mereka belajar.  Jadi, setiap kita perlu belajar untuk menjadi (learning how to be).  Itu artinya, apa pun yang kita pelajari harus mampu membentuk pola pikir dan pola sikap kita dalam kehidupan sehari-hari.  Inilah yang disebut sebagai transfer of learning.

Apa yang dikemukakan Sayyid Quthb di atas, ternyata memiliki persamaan dengan gagasan Imam al-Ghazali.  Menurutnya, pengetahuan memasuki wilayah kepribadian seseorang melalui tiga tahap; teori, aplikasi, dan pengalaman.  Ketiga hal ini mampu mengerahkan seluruh potensi kita dalam proses belajar ketika ditunjang oleh minat yang kuat.  Itulah sebabnya, kita harus menguasai teori bidang yang kita pelajari, merancang penerapannya, dan memperkaya dengan pengalaman-pengalaman.  Tentu untuk mencapai target di atas kita tidak mungkin hanya mengandalkan sekolah atau kampus saja.  kita juga perlu memperluas lingkungan belajar kita.

Hanya saja, untuk memperluas lingkungan belajar kita membutuhkan minat yang kuat.  Minat yang kuat lahir dari tradisi belajar dan tradisi ilmiah yang baik.  Nah, sekarang bagaimana kita menjadikan tradisi belajar benar-benar menlekat dalam diri kita tanpa terkait dengan momentum-momentum tertentu, misalnya ujian.  Selain itu, bagaimana kita menciptakan motivasi bahwa apa pun yang kita lakukan pada hakikatnya merupakan proses belajar, karena belajar merupakan seni untuk mengembangkan diri.

Referensi :
Dwi Budiyanto, Prophetic Learning (Menjadi Cerdas dengan Jalan Kenabian) – pro-U Media, 2009, Yogyakarta

Bumi Pangarakan, Bogor
Kamis, 31 Desember 2015 – 08:50 WIB

Tidak ada komentar:

Posting Komentar